Senin, 17 Maret 2014

Fantastiknya film 99 cahaya di langit Eropa


Apa yang anda bayangkan jika mendengar Eropa? Eifel, Colosseum, San Siro atau tembok Berlin?
Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur,  
peradaban keyakinan saya, Islam.  
film ini bercerita, tentang perjalanan sebuah "pencarian". 
pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.
Dalam perjalanan ini Hanum bertemu dengan orang-orang yang mengajarinya, apa itu islam rahmatan lil 'alamin. Perjalanan yang mempertemukan Hanum dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. perjalanan yang merengkuh dan mendamaiakan kalbu dan keberadaan diri Hanum.
Pada ahirnya, di film ini akan akan menumukan bahwa Eropa tak sekedar austria, Cordoba.....lebih dari itu.


Hai, pagi semua sobat. kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku nonton bareng ama istri film  "99 Cahaya di Langit Eropa part 2" di weekend yang lalu. Bagi kalian para pecinta film Indonesia, saatnya nonton film yang satu ini. keren ! plot, alur ceritanya, sound effect, maupun visualnya.

film ini dibintangi oleh :
ACHA SEPTRIASA (Hanum),  adalah istri dari Rangga yang rela mengikuti suaminya ke Eropa untuk menempuh pendidikan selama 3 tahun.
ABIMANA ARYASATYA (Rangga), Rangga adalah suami dari Hanum yang menjalani pendidikan dengan kuliah di international school, Austria.
Vj MARISSA (Maarja), Maarja adalah seorang wanita berkebangsaan Jerman yang menjadi sahabat Rangga.
RALINE SHAH (Fatma Pasha), salah satu pemeran film 5 cm yang heboh itu.  Fatma merupakan karakter wanita muslim asal Turki yang ditemui Hanum saat berada di Austria.
ALEX ABBAD (Khan), Khan adalah salah satu teman baik Rangga yang sosoknya benar-benar ada dan bukan fiksi.
NINO FERNANDEZ (Stefan) salah satu teman Khan dan Rangga yang unik.

Kamis, 13 Maret 2014

Sisi Lain Hitler yang jarang diungkap....anda akan terkejut !

Berbicara Hitler seakan tidak ada kebaikan di dalamnya. ia identik dengan kekejaman, rasis dan kecongkakan. Padahal itu semua belum tentu benar. Sejarah memang mengasyikkan. karena sejarah tidak pernah berhenti pada satu kisah atau penuturan. akan muncul data-data baru yang akan melengkapi sejarah yang kita baca pada kurun sebelumnya. mengapa demikian? 

Sejarah akan tergantung penulisnya. ia akan terwarnai subyektifitas penulis itu sendiri.  mengenai Hitler semenjak dahulu sudah ditanamkan dalam pelajaran sejarah kita bahwa ia adalah orang kejam, rasis bla..blaa blaa tanpa sendiri kita tahu siapa penulis sejarah Hitler. Apakah ia sudah mengeksplore semua kehidupan tentang Hitler atau hanya satu sisi berdasarkan kepentingannya. Di sinilah diskusi hal ini menjadi menarik. Tulisan tentang Hitler sudah pernah saya ulas pada entri tahun sebelumnya. Tulisan di bawah ini paling tidak akan membukakan mata kita tentang sisi-sisi Hitler yang selama ini tidak pernah diekspose entah itu faktor kesengajaan atau karena ada unsur lain. selamat menikmati. 

"Karena dia merasa kagum pada Peradaban Islam, dia telah mencetak panduan mengenai Islam dan diedarkan kepada tentara Nazi sewaktu perang, walaupun kepada tentara yang non-Muslim."




Saya mengobrol dengan saudara saya yang sedang menyelesaikan tesis PhD-nya. Saya amat terkejut ketika dia menyatakan tesis beliau mengenai Adolf Hitler, pemimpin Nazi. Lalu saya bertanya,”Sudah tiadakah tokoh-tokoh Islam di dunia ini hingga engkau memilih si bodoh ini menjadi tema tesismu?”
Dia tertawa lalu bertanya apa yang saya ketahui tentang Hitler.

Jumat, 07 Maret 2014

Apakah Arti Tangisanmu ?



Malam ini kau kembali bungkam seribu bahasa. aku tidak tahu mengapa kau begitu. ketika ku tanya ada apa. kau pun masih tetap diam. hanya desau nafasmu yang terdengar agak berat. Jam di dinding kamar berdetak-detak, seperti palu-palu yang ditabuhkan oleh hantu-hantu malam. aku bingug harus berbuat apa. Diantara sekian hal yang menyakitkan, bagiku, tidak ada yang lebih menyakitkan di saat aku didiamkan oleh seseorang. apalagi oleh istri.

Tidak seberapa lama kau pun mulai tersedu-sedu. semakin hancurlah hatiku. Akupun bertaya, ada apa? kau masih tetap saja membisu. Tuhan, dengan cara apa agar istriku mau ngomong.

"Ada apa ma? bicaralah ! kalau kamu tidak mau bicara bagaimana aku bisa mengerti apa yang kamu mau?
kalau ada yang salah padaku aku minta maaf . tapi please....bicaralah!"

Bukan jawaban yang aku terima. malah tangismu semakin keras. jam sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib. aku semakin bingung dan tidak mengerti. ada apa dengan istriku? mungkinkah ia kesambet setan?
aaah... rasanya tidak mungkin. aku dekati wajahmu untuk memastikan tidak ada yang berubah. biasanya orang yang ketempelan jin, roman muka dan sorat mata mengalami perubahan. Ini tidak. aku belai wajahmu yang ayu.

"Maa...ada apa sebenarnya? bicaralah !"
Kau masih saja tersedu-sedu oleh tangismu. beginikah wanita. kadang aku dibuat tdak mengerti dengan jalan pikiran mereka. Konon, di saat wanita menangis ada berbagai macam interpretasi yang bisa disimpulkan. pertama ia bahagia. kalau yang satu ini tidak mungkin. sebab wanita yang menangis karena bahagia ada sesungging senyum manis dan tulus di sudut bibirnya meski air mata berderai membasahi pipinya. kedua, karena sedih. kalau yang kedua ini sangat-sangat mungkin. cuman sedihnya karena apa. ini yang masih membuatku bingung.

Aku bukanlah type lelaki yang suka selingkuh, berbuat kasar sama anak juga tidak. lalu apa penyebab istrku menangis? beribu-ribu pertanyaan menjejali otakku. semakin aku berpikir keras kebuntuanlah yang aku hadapi. akhirnya aku menyerah pada keadaan. aku biarkan istriku sendirian di kamar. sementara aku menuju kamar yang lain. mungkin ia butuh suasana menyendiri agar bisa berpikir tenang.

jam menunjukkan pukul 00:00 aku mendengar langkah kaki istriku turun dari ranjang menuju ruang tengah. aku masih terbaring di kamar sambil menunggu dengan cemas. aku pun keluar pura-pura ke kamar kecil. istriku rebahan di kursi tamu sambil membiarkan pintu rumah terbuka. Mungkin ia butuh angin segar, pikirku. biarlah ia nikmati kesendiriannya.

untuk mengusir rasa jenuhku aku memasak air untuk persediaan air kendi esok pagi. selama ini kami memang mengkonsumsi air kendi, tidak air mineral yang dipasarkan di toko-toko. kelihatan ribet memang. tetapi kami punya alasan sendiri mengapa lebih menyukai air kendi.

pertama air yang dimasak jelas lebih sehat daripada air yang tidak dimasak.  kedua karena kendi terbuat dari tanah yang dikeringkan kemudian dibakar maka dengan sendirnya ia mengandung unsur tanah yang sangat bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. ketiga proses pendinginan alami yang dilakukan oleh kendi sangat terasa ketika air sudah menyentuh tenggorokan. Rasanya cessshhh....segaaaaarrr....  dan kesegaran itu terasa hingga ke dalam perut. Satu hal yang tidak didapatkan manakala mengkonsumsi air mineral. Pembaca pasti menyangsikan. boleh dicoba dech.

Untuk mendapatkan sensasi air kendi yang segaaaar  ada satu tips yang harus diperhatikan. yaitu ketika air sudah mendidih segera tuangkan air yang masih mendidih tadi ke dalam kendi. kemudian tutup dengan tutup yang ada. tunggu keesokan harinya dan nikmati sensai kesegaran air kendi.

satu ceret air telah mendidih kemudian aku tuangkan ke dalam kendi. ceret kedua pun menyusul aku taruh di atas api. aku lihat istriku masih duduk menyendiri. entah apa yang ada dalam pikirannya. aku tak tahu. ceret kedua pun mendidih. istriku mulai beranjak dari kursi tamu menuju kamar tidur. setelah usai menuangkan ceret ke dalam kendi. akupun bergegas menuju kamar. Aku lihat istriku mulai tertidur. aku pandangi wajahnya dari jauh. oh...istriku ada apa dengan dirmu??? sungguh kamu terlihat cantik pada waktu terlelap tidur seperti ini.

Malam ini aku biarkan istriku tidur dalam kesendirian.  Biarlah. Siapa tahu esok pagi ia bangun dalam keadaan lebih baik. Mataku belum mau tertidur juga. aku sambar buku  yang baru kemarin aku beli. halaman demi halaman aku buka. akhirnya  akupun ketiduran hingga pagi menjelang.  


Bersambung....



Rabu, 05 Maret 2014

Sunyaruri......Risa saraswati





Minggu minggu ini aku sedang terpikat. Terpikat oleh sosok yang belakangan ini kerap muncul di televisi mendampingi mister Tukul. Sosok ini menarik bukan hanya dari tampilan fisiknya yang cukup manis dan elegan tetapi juga attitude-nya yang punya daya tarik sendiri. Dia adalah Risa Saraswati.

Siapa sekarang yang tidak mengenal Risa. dari yang semula tikus (meminjam istilah di dalam buku ketiganya-Sunyaruri) kini dia telah menjelma menjadi kuda nil. dari siniah kemudian ketertarikanku mulai tumbuh. apalagi ketka membaca ending bukunya yang men-support siapapun agar berani menulis layaknya dia. Risa menuturkan, dirinya bukanlah sastrawan, bukanlah penulis handal. hanya berlatar belakang corat-coret dalam blog maka lahirlah buku-buku yang kini banyak diburu oleh asyarakat dan kawula muda khususnya.

Risa ternyata tidak punya akun Facebook, melainan twitter. aku bela-belain dech login di twiter hanya karena pengein tahu lebih deket ama Risa ini. syukur-syukur mentionku dibalas. waaah betapa senengnya hati ini. but so Far...aku hanya bisa gigit jari. di setiap kesempatan aku coba 'mencolek' Risa tetapi tetap saja sunyi. hampa, tidak ada balasan.

Ada sebersit kekecewaan memang, tetapi aku sadar diri. Emang siapa aku? begitu mention lalu dibalas?? hahahaha....ibarat pendatang baru di ranah Risa, maka tentu saja aku harus bersabar, antri.Mungkin di luar sana masih banyak para penggemar Risa yang masih harus menunggu difollow back.
semoga lewat tulisan ini, siapa tahu Risa ntar melongok ke blogku...hehehe...mngharap.com.

Kemarin, 2 hari yang lalu buku pesenanku datang. Sunyaruri. itulah judul buku ketiga karya Risa saraswati.  masih lengkap dengan sampul plastiknya kemudian aku taruh di meja kantor lalu aku ambil gambar. Jepreeet!!

Dengan sangat Pede maka aku pamerkan foto buku baruku itu ke Risa. eh siapa tahu dia langsung melengos, melirik mentionku. Dug..dug..dug.....hatiku bertalu-talu memantau terus twitter baruku. siapa tahu Risa langsung menyahut tweetku. Rasanya kayak seperti orang yang jatuh cinta lagi. mengharap-harap sesuatu sambil terus deg-degan. qiqiqiqiqi....apakah memang begini rasanya menunggu balasan dari orang yang kita kagumi??? entahlah...

Halaman demi halaman aku buka. Nyaris dalam dua malam buku itu plototin. begitu usai kesan yang aku dapatkan adalah wowwww...!!!

Risa ternyata tidak hanya pandai menyusun syair-syair lagu tetapi sangat lihai memainkan kata-kata di setiap lembaran Sunyaruri. Aku bisa merasakan detak nafasnya di setiap alur yang ia paparkan. bahkan seolah olah aku sedang dibawa ke alamnya, menyaksikan secara langsung apa yang Risa alami.

Berhubungan dengan dunia 'hantu' tidak lalu identik dengan hal-hal yang berbau mistik dan horor. Tetapi Risa bisa menghadirkan dalam bukunya sebuah nuansa berbeda dari kebanyakan 'cenayang'.
Sunyaruri dihadirkan untuk memberitahu pembaca bahwa ada ruang di mana 'mereka para hantu' bisa berbagi pengalaman hidup yang bisa kita petik pelajaran. ada banyak kisah yang tidak kalah mengharukan dibanding dengan kehidupan manusia pada umumnya

contoh, ketika membaca kisah Elsja yang harus mati di ruang bawah tanah karena dikurung oleh bapak ibunya yang Netherland. Dengan membawa cinta yang terpendam kepada Jalil sang pujaan hatinya disertainya dengan 'amarah', kelaparan dan kegelapan yang menyiksa ia harus meregang nyawa sendirian dalam sunyi. Oooooh......dadaku sesak ketika menuliskan paragraf ini. Ya Alloh...ya Rohman...

Aku membayangkan betapa seharusnya orang seperti Risa direkrut oleh pihak kepolisian untuk membantu mengusut sekaligus menelusuri kematian seseorang.  Dengan kemampuan Risa yang dapat memflasback kehidupan seseorang yang telah mati, rasanya ada titik pijak yang bisa digunakan oeh kepolisian untuk menginvestigasi jejak kematian seseorang.

Konon, di Amerika dan di negara Barat sudah biasa menggunakan jasa para para cenayang (supranatural) guna mengungkap misteri kematian ataupun kasus yang gelap. jadi ingat film the X file...hehehehe
Tentu saja dengan sistem yang telah diatur sedemikian rupa.
dan juga masih konon katanya, ketika pihak berwajib memburu dan melacak keberadaan resedivis juga menggunakan jasa para supranatural untuk memindai keberadaannya. Kebetulan salah satu diantara mereka pernah ngobrol dengan penulis. maka tidaklah berlebihan jika sekiranya Risa Saraswati kemudian digandeng oleh pihak kepolisian guna mengungkap tabir-tabir gelap di balik kematian seseorang yang acapkali dijumpai.
Gimana teh Risa...mau???






Jumat, 03 Januari 2014

SEPENGGAL KISAH CUT NYAK DHIEN YANG TERLUPAKAN

HARI itu, tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmaja, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok.

Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.
Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat.

Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 06 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.

Kamis, 02 Januari 2014

FETIH 1453 (Film Kolosal atas kehebatan Sultan Mahmud II al Fatih)



Malam tahun baru ini sengaja aku habiskan ama istri untuk nonton film Fetih 1453. di saat sebagan besar manusia, mungkin, menghabiskan waktu untuk menyambut tahun baru di jalan-jalan, hotel, tempat rekreasi atau lainnya.

 Fetih 1453 adalah sebuah film sejarah epik yang dibuat di Turki. Film yang dibuat dengan US$ 17 juta atau sekitar Rp 158 miliar ini menceritakan tentang pembebasan Bizantium (Romawi Timur) dengan ibukotanya Konstantinopel (Istambul) oleh Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih). Dengan biaya sebesar itu menjadikan Fetih 1453 sebagai film termahal yang pernah dibuat sepanjang sejarah perfilman Turki.

Film ini dibuat mulai September 2009 dan baru selesai Januari 2011. wow...! bukan waktu yang singkat bukan?

Film yang dibintangi oleh Devrim Evin sebagai pemeran Sultan Al-Fatih ini disutradarai oleh Faruk Asoy dengan beberapa aktor lainnya seperti İbrahim Çelikkol sebagai Ulubatli Hasan, Recep Aktuğ sebagai Constantine XI, dan lain sebagainya yang sebagian besar berasal dari Turki.


Selasa, 19 November 2013

Indenesia dan Israel sudah main mata semenjak Orba...

Top Secret Terkuak!
“Operasi Alpha” Saat Rezim Orde Baru

“Operasi Alpha” (Alpha Operation), TNI-AU Melakukan Pembelian 32 Pesawat A4 Skyhawk Secara Rahasia Dari Israel.
Alpha operation Indonesian Air forces A-4_TNI-AU header
“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah sudah kususun rapi, langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan.
Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute.
Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”.
Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam Operasi Alpha (Operation Alpha), yaitu operasi clandestine (operasi gelap, diam-diam dan sangat rahasia) terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel.
Berikut adalah kutipan tentang Operasi Alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.
Operasi Alpha
Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 Sabre dan T-33 Thunderbird memang sudah tua.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8f/TNIAU_F86.png/800px-TNIAU_F86.png http://i186.photobucket.com/albums/x157/imbang76/langit/t-33-04.jpg
Keterangan gambar atas (klik untuk memperbesar): pesawat tempur milik TNI AU yang sudah tua, F-86 Sabre (kiri) dan T-33 Thunderbird (kanan).
Karena kedua jenis pesawat tersebut sudah tua, sehingga kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.
Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik.
Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin (rahasia), oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.
Menuju Arizona, Amerika Serikat
Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat Northrop F-5 E/F Tiger II, serta Operasi Alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.
pesawat A4 Skyhawk dan F5 Tiger
Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi.
Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.
Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana sedangkan informasi lainnya masih sangat kabur.
Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Halim Perdanakusuma.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7a/Ew8_Paya_Lebar.jpg/320px-Ew8_Paya_Lebar.jpg
Bandara Paya Lebar Singapura
Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila.
Di hotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan.
Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukanlah ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.
Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelijen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu, segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam.
Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan:
”Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil, apabila ‘sang merpati ‘ (pesawat yang dibeli – pen.) telah hinggap…”
Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar! Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond, bahkan sekalanya lebih besar!
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9d/Leonardus_Benyamin_Moerdani.jpg
Leonardus Benyamin Moerdani (wikipedia)
Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang?
Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.
Setelah acara makan malam di hotel, kami harus segera bergegas kembali menuju Bandara Paya Lebar Singapura dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa.
Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.
Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Perjalanan semakin aneh, baru saja berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan berikutnya tersebut, yaitu ke Tel Aviv.
Sampai di Bandara Ben Gurion Tel Aviv sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, cuma mengikuti arus penumpang lain yang menuju pintu keluar.
Tetapi tanpa terduga, sebagai bagian dari operasi intelijen, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Karena kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara Ben Gurion!
Hanya bisa pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manut saja dengan hati berdebar.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/89/David_Ben-Gurion_Airport.JPG/320px-David_Ben-Gurion_Airport.JPG
Bandara Ben Gurion Tel Aviv, Israel
Tamatlah riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasia Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor yang berusaha menyelundup masuk ke negaranya.
Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, namun tetap saja kami berpikiran buruk.
Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa yang memberi perintah datang ke Israel.
Sampai diruang bawah tanah, perasaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha ada disana. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja di-skenario-kan untuk ditangkap dan justru bisa lewat ‘jalur khusus’ guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.
Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia.
Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, “Ani tayas mis Singapore” yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan “boken tof ” berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.
Eliat, Pangkalan Udara Rahasia
Semalam tidur di hotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat.
eilat_israel map
Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat.
Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah.
Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine dihari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan ‘Arizona’ oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.
Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur Israel.
Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. Latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. Kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.
Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail.
Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.
http://www.aereo.jor.br/wp-content/uploads//2012/11/AIR_A-4N_Skyhawks_Israeli_lg.jpg
A-4 Skyhawk, Israeli Air Force (IAF) sedang bermanufer (aereo.jor.br)
Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air, sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista.
Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku!
Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago di dunia.
Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijazah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung.
Kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita lalu segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala semua pelajaran yang pernah diperoleh!
Wing Day di Amerika
Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. Semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara.
http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/01/c8/f6/ca/1-block-to-the-falls.jpg
Air terjun Niagara Falls (tripadvisor.com)
Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. Kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.
Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia untuk menguatkan alibi, bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.
Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.
Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal, wow!
http://www.airshowactionphotography.com/yuma06/yuma06_084.jpg
Yuma Air Station – Northrop F-5E ‘Tiger’ VMFT-401 USMC MCAS Yuma, Arizona USA (airshowactionphotography.com)
Di Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya.
Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, sekaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC!
Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.
rute perjalanan operasi alpha
Sang Merpati Hinggap
Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi Madiun yang mengangkut F-5 E/F Tiger II dan paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok.
Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan menjadi satu paket proyek kiriman pesawat terbang, namun diangkut dengan media transportasi berbeda.
TNIAU_f5 Tiger 01
Nantinya ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 adalah di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya.
Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”
Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.
TNIAU_A4 Skyhawk 01
Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.
A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan sampai perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut.
Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lagi tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.
f-5 tiger tni au
Mencari detail tentang Operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main.
Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga masih merupakan cetakan untuk kalangan terbatas.
Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya Benny Moerdani tidak dibahas sama sekali.
Terimakasih juga untuk Metro TV yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang Operasi Alpha dalam acara Special Operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).
sky-hawk tni au
Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:
“Saat buku ‘My Home My Base’ diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin KASAU dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya pun tidak lagi berkomentar.
Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak untung dan ruginya.
pilotNamun sebelumnya, tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara.
Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”
Untuk generasi sekarang, mungkin banyak yang masih bingung, mengapa dan apa istimewanya operasi ini.
Mungkin mereka tak merasakan bahwa Indonesia tak ada hubungan bilateral dengan Israel sejak awal merdeka, apalagi hubungn diplomatik ataupun hubungan politik, tak pernah terjadi.
Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 di grounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi!
(Sumber : Poerwoko, Djoko F / Menari di Angkasa / Kata Hasta Pustaka / Jakarta. 2007)
TNIAU_Sabre
Pilot tempur AURI berpose bersama dengan latar belakang pesawat tempur F86 Sabre


sumber : http://indocropcircles.wordpress.com/2013/10/03/operasi-alpha-indonesia-orde-baru/

Selamat datang di Paytren. Untuk menjadi mitra Paytren ada beberapa tahap yang harus anda lalui : *TAHAP 1*   1. CALON MITRA DOWNLO...