Selasa, 28 Desember 2010

Tuhan dan Kisah Tukang Cukur


Hari-hari menjelang tutup tahun kian dekat. Bayangan masa lalu sayup-sayup masih terdengar di telinga....banyak agenda yang masih belum tertuntaskan, banyak PR yang masih menumpuk dan seabrek asa lainnya yang masih menggantung. Ibarat seorang pdagang di sore hari mereka pulang lalu menghitung keuntungan. Ibarat petani yang sedang menuai hasil sawah kebunnya di sore hari lalu berhitung pailit dan laba yang didapat. Begitu pula masing-masing dari kita semuanya mulai berhitung....satu...dua..tiga...



Ya Allah... ternyata masih banyak kekurangan yang  yang aku lakukan,
Oh Tuhan...masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, agamaku, keluargaku, hartaku, anak-anakku
Berikan hamba umur yang panjang dan kesehatan agar dapat menyempurnakan kekurangan-kekurangan itu. Jangan jadikan hamba orang yang senantiasa berkeluh kesah dan mudah putus asa.

alkisah, suatu hari menghadaplah seorang laki-laki ke salah satu kyai di kota X. setelah berbasa basi, tibalah lelaki itu mengutarakan maksud sebenarnya.
"Begini pak kyai, saya ingin konsultasi tentang kehidupan saya. Mengapa kehidupan saya dari dahulu tidak berubah. Saya masih hidup di bawah garis kekurangan. Mengapa nasib saya sepanjang tahun ini sial melulu?"
Pak kyai menjawab dengan nada sareh,
"Kisanak, tahukah anda,  mengapa hidup anda selama ini tidak mengalami perubahan dan cenderung stagnan? itu semua karena engkau belum datang kepada Allah"
"Belum datang gimana kyai? Saya setiap waktu sudah sholat dan terus berdoa. Mengapa kyai mengatakan saya belum datang kepada Allah?"
"Kisanak, engkau belum datang kepadaNya dengan kesadaran penuh. engkau datang selama ini hanya dengan fisik belaka, tetapi hatimu mengembara ke berbagai penjuru kota. hatimu dipenuhi dengan lamunan-lamunan meski mulutmu melafadzkan kalimahNya"

sejurus kemudian kyai melanjutkan perkataan.
Di Rusia ada seorang tukang cukur dan konsumennya. seperti biasa kalau seseorang sedang dirapikan rambutnya  cenderung mengantuk. untuk mengusir rasa kantuk pelanggannya si barber lalu membuka dengan sebuah pertanyaan.


"Tuan, apakah anda percaya akan adanya Tuhan?"
sambil tergagap pelanggan itu pun menyambar dengan sebuah jawaban,
"Iya, saya percaya penuh kepada Tuhan, mengapa?"
"Kalau saya tidak percaya dengan Tuhan," jawab tukang barber.
"Adakah anda punya alibi yang mendukung pernyataan anda itu?"

Sambil mendesah dan sedikit nyengir  tukang cukur lalu menjawab,

"Kalau Tuhan ada, niscya tidak ada manusia yang kesusahan, tidak ada manusia yang sengsara, tidak ada manusia yang senantiasa berkubang dalam duka nestapa.
Bukankah Dia,konon, Maha Pengasih dan Penyayang? lalu dimanakah Dia selama ini?"

Sang pelanggan pun tercenung, matanya berputar ke kiri dan ke kanan sambil mencari-cari jawaban. sesaat telah berlalu namun jawaban tidak juga muncul di kepalanya hingga usailah acara cukur mencukur rambut itu. Lalu dengan senyum mengembang tukang barber itu menerima uang jasanya. sebuah senyum kemenangan atas pertanyaan yang tidak  menghasilkan jawaban.

Sang pelanggan pun berlalu menuju daun pintu keluar. ketika dibuka dilihatnya diujung lorong seorang gelandangan yang berambut kumal, lusuh dan acak-acakan. melihat hal itu ia pun berteriak,
"Yeah...kena kau!"
Daun pintu yang semula sudah dia buka ditutupnya kembali, ia melangkah ke dalam mendekati sang barber dan berkata,

"Tuan, saya sudah mendapatkan jawabannya." sang barber mengerutkan keningnya menunggu sebuah jawaban.
"Menurut saya, tukang cukur itu tidak ada!, " berkata sang pelanggan.
"Tuan jangan mengigau. Bukankah saya ini tukang cukur, tuan baru saja bercukur di tempat ini...dan lihat deretan toko di seberang sana banyak barber-barber semisal saya. bagaimana mungkin anda menatakan tukang cukur itu tidak ada?, "sanggah sang barber.
"Tuan, kalau tukang cukur itu ada mengapa masih ada gembel yang berambut lusuh itu, " jawab sang pleanggan sambil menunjuk seorang gembel diujung lorong.

"hehehehe....tuan, dengan banyaknya gembel dengan rambut lusuh dan acak-acakan  tidak lalu mengindikasikan bahwa tukang cukur tidak ada. Tukang cukur tetap ada, kesalahan dia adalah karena ia tidak mau datang kepada saya. kalau dia datang, niscaya akan aku rapikan dan akan aku potong rambutnya. apapun bentuk gaya rambut yang dia inginkan pasti akan saya kabulkan dan saya layani dengan senang hati!"

"perkataan tuan sudah menjawab pertanyaan anda di muka tadi, dengan banyaknya manusia yang masih memiliki persoalan dalam hidupnya entah itu kesusahan, kehinaan, kemalangan, duka nestapa dan seabrek permasalahan hidup bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan tetap ada, kesalahan mereka adalah karena  tidak mau datang kepada Tuhan. seandainya mereka mau datang lalu menyerahkan semua urusannya kepada Tuhan niscaya semua akan dirampungkan, diselesaikan olehNya."

Setelah bercerita lalu sang Kyai pun bertanya kepada tamunya,
"Kisanak, sudah fahamkah arti perkataan saya di muka tadi?"
"sudah kyai, posisi saya adalah laksana gembel tadi. kalau ia igin rapi seharusnya dia yang datang kepada tukang cukur bukan sebaliknya.
mendengar jawaban yang demikian sang Kyai tersenyum dan mempersilahkan tamunya untuk 'nyruput' teh nasgitel yang masih mengepul.

medio desember 2010

1 komentar:

  1. Kalau pergi ke tukang cukur hrs punya uang bnyk. tarif tukang cukur mahal. kalau tdk punya uang, gk mau mencukur. minta tlng kpd tuhan syarat nya berat. hrs beriman dan bertaqwa. spt kita minta jodoh kpd tuhan. hrs berusaha, berdoa, punya uang, punya pekerjaan, jujur, baik, ramah dll. berat dan menakutkan syarat nya.

    BalasHapus

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...