Kamis, 10 November 2011

Bidadari mengagumkan ....Mehrunnisa the Twentieth Wife




Ketika pertama kali ku pegang buku novel ini dan aku baca sekilas synopsis di sampul belakang,
"hmmmm… buku yang menarik," gumanku.
Dan ternyata memang benar. Dari novel ini pula aku tahu istilah zenana, Khan-i-khanan dan istilah lain yang sama sekali asing di telingaku sebelumnya.
Kisah yang dibangun oleh Indu Sundaresman, menurutku, sangat apik dan terlihat sekali corak ketimuran. Lain halnya jika anda membaca Taj Mahal karya John Shors, meski menurut beberapa kalangan dan bahkan menjadi International Best seller, menurutku, warna kebaratan sangat kental dan menusuk, misal ketika ia menggambarkan perselingkuhan, adegan percintaan, pengkhianatan semuanya begitu vulgar dan budaya Barat jelas terekspresikan. Bahkan secara samar ia menuturkan lewat percakapan antara Jahanara dan Ladli (novel Taj Mahal) dalam sebuah penggalan paragraf, menjaga kesucian, tidaklah penting, asalkan itu diberikan kepada orang yang dicintai....(horoh opo tumon?)  Terlepas ia hanyalah sebuah novel, menurutku, John Shors begitu free mind  dan brangkali lupa bahwasanya ia sedang menuturkan kisah dalam ranah kesultanan dan dalam bungkus atmosfis keislaman. Hehehehe kok malah neglantur sih. (ntar deh bakal aku ulas buku John Shors tersebut).

Cerita novel mengalir dengan sangat menawan dari awal sampai akhir, tanpa ada alur balik. Cerita bermula ketika Gias Beg dan Istrinya, Asmat  yang sedang mengandung berjalan terseok di gurun pasir karena melarikan diri dari Persia. Di tengah gurun yang gersang itu akhirnya bayi mungil lahir, yang kemudian diberi nama Mehrunnisa (matahari perempuan) Sewaktu masih bayi, Merunnisa sempat di buang oleh orang tuanya karena tidak memiliki uang untuk merawatnya. Namun, untunglah dia diketemukan oleh kenalan Ghias yang bernama Mirza seorang pedagang yang kaya. Gias diperkenalkan Mirza kepada Sultan Akbar di India. Karena Sultan Akbar merasa simpatik pada Ghias, Ghias diberikan kedudukan dan harta yang berlimpah.

Mehrunnisa adalah seorang anak yang pintar dan selalu ingin tahu.. Pada umur delapan tahun, Mehrunnisa di ajak ibunya melihat  pernikahan Pangeran Salim, putra dari Sultan Akbar. keingintahuannya yang mendalam untuk dapat melihat sang Pangeran menyebabkannya ditampar oleh salah satu wanita harem. namun hal itulah yang mengantarkannya dikenal oleh permaisuri Sultan, Ruqoyya. Ia pun dapat menarik perhatian Ruqayya, istri kesayangan sultan. Dalam benak Mehrunnisa, suatu saat, alangkah bahagianya jika dapat menjadi istri sang Pangeran. kedekatannya dengan Permaisuri inilah yang kemudian menghantarkannya dikenali oleh Pangeran Salim pada suatu kesempatan. Sang Istri, Jagat Gosini, tentu saja sangat sewot. ia tidak ingin suaminya berpaling kepada Mehrunnisa’. Tentu saja, sebab Mehrunnisa’ wanita yang jelita, smart dan punya prinsip.
Dalam perjalanan kerajaan perebutan tahta dan kekuasaan seakan menjadi intrik yang selalu menyertai. Demikian pula dalam kerajaan Mughal India yang menjadi setting novel ini.

Sultan Akbar memiliki 3 orang Putra, Salim (tertua), Murad dan Daniyal. Salim, karena bujukan orang-orang sekitarnya (dalam perjalanan sejarah, orang-orang yang berbahaya adalah seperti mereka ini. Jika ‘jagonya’ menang ia akan dengan mudah mengendalikan kekuasaannya..waspadalah) tidak sabar untuk segera menduduki tahta kerajaan. ia merencakan kudeta. Salim menyogok orang kepercayaan ayahnya untuk meracuni ayahnya. Hal ini sebenarnya sudah diketahui oleh Sultan Akbar. Namun ia tidak mempercayainya. Hingga pada akhirnya sultan sakit parah. Sultan Akbar sangat terpukul. Ia memecat orang suruhan Salim. Setelah kejadian itu, hubungan bapak dan anak ini memburuk.

Hasarat ingin menjadi Istri Pangeran Salim masih membara di hati Mehrunnisa’. namun kenyataan berkata lain ia dijodohkan oleh Sultan Akbar dengan seorang prajurit yang yang berjasa bagi kerajaan, yakni Ali Quli. Mehrunnisa tidak bisa menerimanya. hatinya masih terpaut ke Salim.

Setelah Mehrunnisa menikah dengan Ali Quli, ia tak kunjung mendapatkan anak. Mehrunnisa selalu keguguran saat mengandung. Ali Quli mengatakan bahwa, Mehrunnisa tidak dapat memelihara benih darinya karena memikirkan pria lain. Suatu ketika, Mehrunnisa sudah hamil dua bulan. Saat ia pulang dari rumah orang tuanya, ia melihat Ali Quli berselingkuh dengan budaknya di kamar mereka. Saat itu Mehrunnisa tidak terima dan marah besar pada Ali Quli. Namun, Ali Quli balik marah kepadanya. Akibat tekanan yang besar saat itu, Mehrunnisa keguguran lagi. kebencian kepada suaminya makin mendalam.

Suatu saat, pusat pemerintahan dipindahkan ke Deccan karena adanya permasalahan di kerajaan. Saat itu Pangeran Salim mendapatkan kepercayaan untuk memimpin pasukan. Ia di temani oleh Ali Quli. Pangeran Salim sangat sedih ketika Ali Quli menghujat Mehrunnisa karena tak kunjung mmendapatkan anak. 
Pangeran Salim kembali terbujuk rayuan orang-orang dekatnya untuk kembali memberontak pada ayahnya dengan merebut gudang harta di Agra. Namun lagi-lagi rancananya gagal. Pemberontakannya sudah diketahui terlebih dahulu oleh ayahnya. Pangeran Salim sangat malu saat itu. Waktu itu Salim ditemani oleh Ali Quli. Namun karena rencananya gagal, Ali Quli Meninggalkan Salim secara diam-diam. 
Suatu ketika, Ali Quli berniat memberontak pada sultan dengan mendukung Khusrau (anak Salim) yang menjadi pelanjut takhta. Hal ini diketahui Mehrunnisa. Ia merasa kecewa pada Ali Quli. Namun, saat itu ia sedang hamil. Pemberontakan Khusrau berlanjut. Sampai saat Salim sudah memakai gelar Sultan Jahangir dan Jagat Gosini (istri Salim yang paling berpengaruh) sudah menjadi ratu. Salim diangkat menjadi sultan saat Sultan Akbar akan meninggal. Saat itu usia Salim 38 tahun. 

Ketika Mehrunnisa melahirkan, Ali Quli sangat kecewa karena yang dilahirkan Mehrunnisa adalah anak perempuan. Namun Mehrunnisa tidak peduli jika suaminya tidak datang. Mehrunnisa menamai anaknya dengan nama Ladli yang berarti yang dicintai.
Jika dahulu Salim pernah akan mengkudeta ayahnya, kini giliran ia ‘menerima karma’ pemberontakan dari putranya sendiri,Khusrau. Ia berani mengkudeta karena hasutan dan gosokan dari orang-orang sekitarnya. Namun pemberontakannya dapat dipadamkan, Khusrau dipenjara.  Khusrau melarikan diri dengan orang-orang kepercayaannya dan mengadakan pemberontakan lagi. Kali ini Sultan benar-benar memberinya pelajaran. Seluruh prajurit yang membantunya dihukum mati. sementara karena kebengalan Khusrau akhirnya ia dibutakan matanya. Namun setega-tega Ayah, kasihnya pada Khusrau tetap menjalari hatinya. Ia lalu minta kepada tabib istana agar mata Khusrau bisa disembuhkan.

Akhirnya Mehrunnisa bertemu kembali dengan Sultan Jahangir saat pertunangan antara putra sang sultan,Khurram dengan keponakannya, Arjumad (kelak kedua pasangan ini yang akan mengukir sejarah dengan pembuatan Tajmahal). Hal ini sengaja dilakukan Jahangir untuk memberi penghormatan pada Ghias. Karena Ghias adalah ayah Mehrunnisa, tentunya Mehrunnisa juga merasa terhormat. 

Disinilah Sultan Jahangir kembali diingatkan akan cinta terpendamnya kepada Mehrunnisa’. setelah sekian tahun ia disibukkan dengan pemberontakan anaknya, pemberontakan di beberapa wilayahnya dan tentu saja kesibukan-kesibukan yang dirancang oleh Jagat Gosini agar Sultan tidak lagi memikirkan Mehrunnisa’.  Rupanya cinta Sultan Jahangir benar-benar  mengakar dalam hatinya. tidak ada pilihan lain kecuali ia harus menikahi Mehrunnisa. Ada satu penghalang karena ia masih memiliki suami, Ali Quli. Jahangir memerintah Ghias untuk menyampaikan hal ini pada putrinya dan mengirim surat pada Ali Quli agar ia menceraikan istrinya. Saat Ali Quli mengetahui hal ini, ia marah besar. Ali Quli berniat untuk memberontak pada sultan. Rupanya, niatnya ini diketahui oleh Shultan. Ia mengutus gubernur Deccan untuk memastikan keadaan Ali Quli. Ali Quli bertindak gegabah, ia membunuh sang Gubernur dan wakilnya. Ali Quli pun tewas dibantai oleh pasukan sang gubernur.

Akhirnya setelah melalui banyak cobaan, setelah 8 tahun pasca meninggalnya Ali Quli, Mehrunnisa dapat menikah dengan Sultan Jahangir yang dicintainya berpuluh tahun yang lalu. Jahangir menjadikannya ratu dengan panggilan Nur Jahan. ini semua kerena Mehrunnisa' adalah wanita yang cerdas, ia mendapati banyak pengalaman semasa ia bergaul dengan permaisuri Sultan Akbar, Ruqoyya. ia tahu seluk beluk wanita-wanita yang tinggal di dalem harem. kebanyakan mereka berusaha menyenangkan Sultan sebatas dari fisik dan kemolekan tubuh. Padahal sebagaimana ia lihat, mengapa Sultan mencintai Ruqoyya di atas seluruh isterinya? karena ia mampu menjadi tumpuan di saat sultan menghadapi banyak masalah. ia mampu memberikan jalan keluar dengan arif dan bijaksana. dan tanpa diketahui banyak orang sesungguhnya kebijakan-kebijakan Shultan banyak dipengaruhi oleh pendapat-pendapat istrinya. Hal itulah yang tidak banyak dimiiki oleh para selir sultan. Mehrunnisa tidak ingin hanya menjadi selir, yang hanya dapat memuaskan Shultan sesaat, tetapi tidak dapat mengendalikan wilayah zenana (istana harem). Jagat Gosini tidak dapat berbuat banyak mendapati fakta yang demikian itu. Sebab jika dia mencak-mencak, Shultan sendiri yang berjanji akan mendepaknya keluar dari Istana.Mehrunnisa' mendapat banyak hadiah dari sang sultan. Salah satunya bak mandi dari batu hitam yang berukir tanggal pernikahannya dalam bahasa Persia: 25 Mei 1611. 
Bersama-sama, Jahangir dan dirinya akan menjadikan kesultanan Mughal sebagai yang paling cemerlang dan paling mengagumkan di seluruh dunia. Dia ingin melakukan ini demi pria yang dicintainya begitu dalam, karena inilah yang diinginkan oleh Jahangir. Dan akhirnya Nur Jahan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di balik takhta.




  1. IDENTITAS BUKU 
    1. Judul : Mehrunnisa the Twentieth Wife
    2. Pengarang : Indu Sundaresan
    3. Penerbit : hikmah
    4. Kota terbit : Jakarta Selatan
    5. Tahun terbit : 2008
    6. Cetakan : ke-1
  2. Tokoh-tokoh dalam novel
  1. Mehrunnisa' : tokoh central (kelak bernama Nur Jahan)
  2. Gias Beg : Ayah Mehrunnisa
  3. Sultan Akbar
  4. Ruqoyya : Permaisuri Sultan Akbar atau Padshah Begam
  5. Pangeran Salim (kelak dia menjadi sultan bergelar Sultan Jahangir)
  6. Jagat Gosini : istri sekaligus permaisuri Pangeran Salim
  7. Ali Quli : Salah satu panglima perang dan sekaligus suami Mehrunnisa
  8. Kusrhau : anak Sultan Jahangir

10 komentar:

  1. dua jempol atas review bukunya.. bener bener jadi buat pengen memiliki bukunya... hehhe.. kisahnya seperti melihat arti cinta itu.. tapi dengan intrik dan nuansa yang begitu menawan.. ^____^

    BalasHapus
  2. teria kasih Anita Karmi telah bersedia mampir ke blog saya. semoga menjadi inspirasi. salam hangat.

    BalasHapus
  3. Novelnya bagus, reviewnya jg bagus.
    Tapi di novelnya ada yg kurang karena berdasar sejarah isteri yang paling disayangi oleh raja akbar adalah jodha, ratu rajput yg diberi gelar mariam uz zamani. Hehehhee...
    Tapi salut bisa bikin review bukunya dengan sangat baik.

    BalasHapus
  4. terima kasih. tetapi sejarah mencatat bahwa Ruqoyya adalah istri yang paling dikasihi dan disyangi oleh raja Akbar. Raja memang pernah mempersunting istri dari Rajput tersebut. tetapi cerita di AnTv sudah sangat banyak bumbunya dan jujur saja...terlalu melebih-lebihkan Jodha. sementara Ruqoyya digambarkan sebagai permaisuri yang sangat buruk perangainya.

    BalasHapus
  5. kalau aku baca di internet Mariam Uz Zamani adalah istri yg paling di cintai Akbar, bukan ruqqaiya.
    tapi gpp terima kasih untuk review nya

    BalasHapus
  6. untuk memperkaya referensi silahkan baca buku-buku tentang Raja Akbar dan Ruqoyya. Novel Indu Sundaresman ini juga banyak menutur tentang Ruqoyya sang istri Raja Jalaludin Akbar. saran saya jika anda menyaksikan sebuah sinetron atau telenovela di TV anggap saja sebagai hiburan. karena mesti banyak yang keluar pakem. kecuali kalau film dokumenter. anda bisa menambahkan sebagai referensi. but any way. thanks for reading my blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang bukunya pakek bahasa indo ya ??

      Hapus
    2. bukunya pakai bahasa indonesia kok. silahkan cari

      Hapus
  7. saya termasuk yang sangat menyukai buku ini. pertama membaca waktu awal2 kuliah tahun 2008-2009, dan sangat pengen punya bukunya, meskipun sampai sekarang belum kesampean. terimakasih reviewnya kang munif, lengkap dan bagus sekali. buku ini trilogi ya kang?judulnya apa saja ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku ini setahu saya bukan trilogi. cuman buku ini saja selanjutnya tidak ada. terima kasih

      Hapus

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...