Selasa, 19 Februari 2013

Fakta Ilmiah, cara penyembelihan barat dengan cara Islam







Sampai saat ini, umat Islam banyak dihadapkan pada tudingan-tudingan
orang Barat, bahwa orang Islam adalah teroris, pengacau, anti
ketenteraman, dll. Lihat saja, dimana-mana bom meledak!? Pelakunya
(setidaknya, begitu yang ditudingkan) adalah orang Islam? Setiap pelaku
yang tertangkap, selalu menggunakan identitas ‘ala’ orang Islam, seperti
berjenggot, berkopiah, berbaju taqwa, atau dengan nama pelaku yang
terkesan Islami (misal : Ali Imron, Imam Samudera, Nurdin M. Top, Dr.
Azahari, dll.), atau orang yang berasal dari jazirah Arab (seperti : Abu
Nidal, Usamah bin Laden, dll.). Hal tersebut seakan menguatkan
justifikasi (tuduhan) mereka, bahwa Syari’at Islam memang tidak
manusiawi!

Begitulah tuduhan yang selalu dilontarkan oleh orang-orang Barat,
Yahudi, dan Nashrani terhadap (penerapan) Syari’at Islam. Hujatan mereka
‘nampaknya’ seakan bukanlah omong kosong belaka. Akan tetapi, tuduhan
tersebut sering disertai contoh-contoh riil yang membuat sebagian besar
umat Islam kikuk dalam menjawabnya.

Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa setiap tahun masyarakat Islam
merayakan ibadah Qurban. Ibadah tersebut merupakan perwujudan
persembahan terbaik kita kepada Allah Swt. Ibadah Qurban dilaksanakan
melalui prosesi penyembelihan hewan qurban (sapi, kambing, domba, unta,
dll.) dengan cara tertentu. Daging-daging binatang qurban tersebut
dibagi-bagikan kepada fakir miskin, masyarakat, dan sanak kerabat.
Akan tetapi, kelebihan ini sering dikaitkan dengan suatu hadits ‘unik’
yang sering ‘diartikan lain’ oleh kaum misionaris. 

Hadist tersebut  berbunyi: Rasulullah SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan
kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh
hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian
menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih, (yaitu)
hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan
binatang yang disembelihnya” (HR. Muslim).


Hadits ini nampaknya agak sulit untuk dijelaskan. Betapa tidak, di
dalamnya terkandung kalimat bahwa seakan Allah memerintahkan kita untuk
‘membunuh’, apalagi ada kata-kata, “…tajamkanlah pisaunya…!” Bukankah
ini menunjukkan bahwa umat Islam memang dilatih untuk membunuh dengan
kejam. Bahkan yang lebih nyata lagi, ada kalimat, “…meringankan binatang
yang disembelih!” (Aneh, bukan?! Masak membunuh koq pakai kalimat
basa-basi ‘meringankan binatang yang disembelih’! Padahal kita tahu,
disembelih khan tentunya sakit sekali!?).

Bagi kita, apapun haditsnya, bagaimanapun isinya, apapun konteksnya,
yang jelas hadits ini adalah sebuah hadits shahih. Sebagai umat Islam,
kita harus meyakini bahwa Syari’at Islam adalah syari’at yang ya’lu
walaa yu’la ‘alaihi (yang terbaik dan paling baik dibandingkan yang
lain).

Akan tetapi, keyakinan kita sangat berbeda dengan pendapat orang-orang
Barat (Yahudi dan Nashrani). Menurut mereka, Syari’at Islam adalah
contoh nyata betapa Islam betul-betul tidak manusiawi dan kelompok Islam
adalah kelompok orang bejat, bengis, suka berbuat kejam, dan suka
menganiaya binatang ternak. Bisa dibayangkan bahwa setiap tahun umat
Islam mengikat sekelompok ternak, kemudian membantainya secara
beramai-ramai. Ternak-ternak tersebut tidak berdaya, hanya bisa
meronta-ronta, hanya mengerang-erang kesakitan. Betapa teganya orang
Islam…!

Menurut mereka, kalau kita ingin mengkonsumsi daging binatang ternak,
maka haruslah dengan cara yang baik, tidak dengan menyiksa atau
menganiaya ternak semacam itu. Cara yang terbaik, menurut mereka, adalah
dengan memingsankan ternak terlebih dahulu, untuk selanjutnya
disembelih setelah tidak sadar (pingsan). Pemingsanan dapat dilakukan
dengan berbagai alat pemingsan, seperti : stunning gun, pembiusan, atau
menggunakan arus listrik. Setelah pingsan, hewan tersebut tidak akan
merasa kesakitan. Cara seperti ini mereka yakini sebagai cara yang
terbaik, karena hewan tidak meronta-ronta, tidak nampak kesakitan, tidak
nampak teraniaya, dan ‘sepertinya’ tidak merasakan sakit (karena telah
pingsan).

Metode pemingsanan yang dikatakan terbaik yang sering mereka lakukan
adalah dengan cara memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan
kecepatan tertentu dan beban tertentu. Alat yang dipakai untuk membuat
pingsan adalah Captive Bolt Pistol (CBP). Cara inilah yang mereka klaim
sebagai cara terbaik dan paling manusiawi. Selain itu, cara ini dapat
melindungi pekerja dari kemungkinan kecelakaan.

Begitulah tuduhan dan hujatan mereka, dan nampaknya sangat sulit bagi
kita untuk ‘membela diri’. Bahkan mungkin kita pun tidak bisa mengelak,
atau bahkan mungkin sebagian dari kita malah membenarkan tuduhan
tersebut! Na’udzu billaahi min dzaalika!

Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Menolak tanpa bisa memberi argumen
(bantahan) atau menerima dengan setengah hati? Sebegitu-sulitkah kita
meyakinkan diri bahwa Syari’at Islam adalah syari’at yang terbaik?
Ingatlah akan firman Allah Swt. dalam QS. Al Baqoroh (2) : 120 yang
artinya : “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan
pernah rela, hingga kamu mengikuti millah (keinginan) mereka…!”

Secara nyata dalam ayat tersebut Allah tegaskan bahwa orang-orang Barat
(terutama Yahudi dan Nashrani) selalu mencari-cari peluang dan kelemahan
Islam. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menjatuhkan wibawa (izzah)
Islam. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengalahkan Islam. Apabila
kita terlena, maka sangatlah mungkin kita terbawa. Untuk itu, marilah
kita berdo’a, berikhtiar, serta bertawakkal kepada Allah untuk menjawab
masalah ini. Begitulah Kanjeng Nabi SAW. menuntun kita.

Subhaanallah, di tengah-tengah kegundahan umat Islam, dengan sengaja
Allah Swt. telah kirimkan jawabannya. Allah Swt. mengutus 2 orang staf
ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkenal di
Jerman. Beliau berdua adalah Prof. Dr. Schultz dan koleganya, Dr.
Hazim. Berdua beliau memimpin suatu tim penelitian yang terstruktur
untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak
sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsan-an),
atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan).

Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan
sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak
kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang
disebut Electro-Encephalograph (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak
yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini
dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika
disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang
Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah
keluar.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG
(yang telah terpasang) beberapa pekan. Setelah masa adaptasi dianggap
cukup, separuh sapi disembelih secara Syari’at Islam dan separuh sisanya
disembelih secara Metode Barat.

Syari’at Islam menuntunkan penyembelihan dilakukan dengan menggunakan
pisau yang sangat tajam dengan memotong 3 saluran pada leher bagian
depan (saluran makanan, saluran nafas, serta 2 saluran pembuluh darah,
yaitu : arteri karotis dan vena jugularis). Syari’at Islam tidak
merekomendasikan pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat (Western Method)
mengajarkan ternak dipingsankan dahulu sebelum disembelih.

Selama penelitian, grafik EEG dan ECG pada seluruh ternak dicatat untuk
merekam keadaan otak dan jantung semenjak sebelum pemingsanan (atau
penyembelihan) hingga hewan ternak benar-benar mati. Nah, hasil
penelitian inilah yang kita tunggu-tunggu!
Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman adalah sebagai berikut :

Penyembelihan menurut Tuntunan Syari’at Islam

Pertama, pada 3 detik pertama setelah disembelih (dan ketiga saluran
pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat bahwa tidak ada
perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama
setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya
penurunan grafik secara gradual (bertahap) yang sangat mirip dengan
kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut
unconsciousness (benar-benar kehilangan kesadaran). Pada saat tersebut,
tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama tersebut, ECG merekam adanya aktivitas
luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari
seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleks
gerakan koordinasi antara otak kecil dan jantung melalui sumsum tulang
belakang (spinal cord). Subhaanallah, pada saat darah keluar melalui
ketiga saluran yang terputus di bagian leher, grafik EEG tidak naik,
tapi justeru drop sampai ke zero – level (angka nol). Kedua ahli
tersebut menterjemahkan sebagai : “No feeling of pain at all!” (tidak
ada rasa sakit sama sekali!) Allaahu Akbar! Walillaahil hamdu!

Keempat, oleh karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar
tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat)
yang layak dikonsumsi oleh manusia. Jenis daging semacam ini diyakini
sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) yang
menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan ala Barat (Western Method)



Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi
terhuyung jatuh dan collaps (pingsan). Sapi tidak bergerak-gerak lagi
sehingga sangat mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat dengan
mudah disembelih, tanpa meronta-ronta, dan (nampaknya) tanpa rasa sakit.
Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit (tidak sebanyak
bila disembelih tanpa proses stunning).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang
sangat nyata pada grafik EEG. Hal tersebut mengindikasikan adanya
tekanan rasa sakit diderita oleh ternak segera setelah kepalanya
dipukul.

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG
yang drop sampai batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya
peningkatan rasa sakit yang luar biasa sehingga jantung berhenti
berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk
menjalankan tugas menarik darah dari seluruh bagian organ tubuh, serta
tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, oleh karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar
tubuh secara maksimal, maka dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak
sehat), sehingga tidak layak dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam
khasanah ilmu dan teknologi daging (dipelajari di Fak. Peternakan UGM),
bahwa timbunan darah (yang tidak sempat keluar pada saat ternak mati/
disembelih) merupakan tempat yang sangat ideal bagi tumbuh kembangnya
bakteri pembusuk yang merupakan agen utama perusak kualitas daging.
Maha Suci Allah! Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak
disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda
dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah jamak menjadi
keyakinan kita bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang
terluka pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Lebih-lebih yang terluka
adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim berhasil membuktikan bahwa
pisau yang mengiris leher (ref. Syari’at Islam) tidaklah ‘menyentuh’
saraf rasa sakit. Beliau berdua menyimpulkan bahwa ekspresi sapi
meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah akibat rasa sakit, tetapi
hanyalah ekspresi ‘keterkejutan saraf dan otot’ saja (yaitu pada saat
darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Tentunya, hal ini
tidak terlalu sulit dijelaskan (grafik EEG tidak menunjukkan adanya
rasa sakit).

Apabila telah disembelih, tetapi sapi tidak segera mati, bolehkah kita menusuk jantungnya?
Semestinya, pantang bagi seorang muslim untuk menusuk jantung setelah
sapi disembelih. Biarkan saja jantung menjalankan tugasnya memompa darah
keluar tubuh. Semakin lama jantung memompa darah, maka semakin banyak
darah dipompa keluar. Semakin sedikit timbunan darah dalam daging, maka
dagingnya menjadi semakin awet.

Hasil penelitian Blackmore (1984), Daly et al. (1988), Blackman et al.
(1985), dan Anil et al. (1995) di 4 negara yang berbeda membuktikan
bahwa setelah disembelih, sapi memerlukan waktu lebih lama untuk
benar-benar mati. Hal ini diduga disebabkan oleh ukuran tubuh sapi yang
lebih besar dibandingkan kambing, domba, rusa, ayam, dll. Untuk itu,
sebaiknya kita menunda hingga sapi benar-benar mati dan tidak perlu
menusuk jantungnya. Bila kita menusuk jantungnya, maka jantung akan
sobek dan kehilangan fungsinya untuk memompa darah, sehingga darah tidak
dapat maksimal terpompa keluar tubuh. Selain itu, sobeknya jantung
diduga akan menimbulkan kejutan rasa sakit yang amat sangat bagi hewan
ternak yang bersangkutan.

Penyakit sapi gila (Mad Cow) bisa menular ke manusia

Inggris dan Perancis adalah 2 jawara produsen (eksportir) daging sapi
terbesar di dunia dan selalu saja terjadi perang dagang di antara
keduanya. Menurut orang Inggris, pedagang Perancis bermain curang.
Mereka mengirimkan suatu virus mematikan yang bisa menular antar ternak
dan berpotensi menular ke manusia. Virus tersebut disebut Bovine
Spongioform Enchephalopathy (BSE) yang sering pula disebut sebagai Virus
Sapi Gila atau di negara asalnya lebih dikenal dengan istilah Mad Cow.
David Schardt, ahli gisi dari Center for Science in the Public Interest
(CSPI) Amerika, melaporkan bahwa ada beberapa daging beef steak dan
hamburger yang dimakan orang Amerika saat ini yang mengandung
materi/bagian otak. Apabila otak yang tercemar virus BSE ini dimakan
oleh manusia, maka sangatlah mungkin orang tersebut tertular penyakit
ini.

Para ahli bekerja keras menelusuri asal muasal kisah material otak
tersebut bisa sampai ke daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
material/jaringan otak tersebut dapat sampai ke daging sebagai akibat
proses pemingsanan (stunning) sebelum disembelih. Sebagaimana pernah
diberitakan Kantor Berita Inggris – Reuter, bahwa pada saat di-stunning,
otak yang semula compact pecah selaputnya karena getaran dan tekanan yg
sangat hebat. Akibat pemukulan tersebut, jaringan otak goyah, sehingga
banyak material jaringan otak yang pecah berhamburan. Material otak
tersebut kemudian terbawa darah mengalir menuju beberapa organ tubuh.

CSPI juga menyebutkan bahwa peneliti di Universitas Texas A&M dan
Canada's Food Inspection Agency (Badan Pemeriksa Makanan Kanada)
menemukan kenyataan bahwa metode yang dikenal sebagai Pneumatic Stunning
dapat mengakibatkan pecahnya jaringan otak dan terbawa dalam sistem
jaringan tubuh sapi. Lebih lanjut Tam Garlan, ahli Bidang Kedokteran
Hewan dari Universitas Texas A&M menyatakan di CSPI's July
Newsletter, bahwa pneumatic stunning tersebut mengakibatkan partikel
mikroskopis jaringan otak pecah dan serpihannya terbawa oleh darah ke
paru-paru, hati, serta beberapa organ tubuh lainnya.

Bagaimana dengan penyembelihan sesuai Syari’at Islam? Leila Corcoran
(BICNews, 25 Juli 1997) menulis suatu artikel yang berjudul Cattle Stun
Gun May Heighten "Madcow" Risk (Senjata Pemingsan Sapi dapat
Meningkatkan Resiko Penularan Penyakit ’Sapi Gila’). Beliau menyimpulkan
bahwa tidak ada lagi yang meragukan bahwa metode penyembelihan (tanpa
pemingsanan) lebih baik dibandingkan cara yang lain. Metode ini
ditetapkan di dalam Al Qur’an. Allah adalah Pencipta Kitab Suci Al
Qur’an dan Allah Swt. sangat mengerti apa yang terbaik bagi kita!
 
Sebagai umat yang beriman, kita harus yakin dengan Syari’at Islam dan
tiada keraguan di dalamnya (QS. Al Baqoroh: 2).
Akhir kata, marilah kembali kita haturkan rasa syukur kita kepada Allah Swt. atas berbagai curahan kemuliaan dan barokah-Nya.

Sekarang bagaimana dengan HUKUMAN MATI?

Saat ini metode hukuman mati yg diterapkan di Indonesia adalah dengan
ditembak. Akan tetapi, justeru menjadi pertanyaan menarik, metode apa yg
paling manusiawi? Apakah dengan ditembak, disuntik mati (euthanasia),
digantung, disetrum, atau dengan dipenggal kepalanya?
Di awal Tahun 2005, di harian KOMPAS ditulis hasil penelitian ilmiah
bahwa rasa sakit akibat hukuman mati dengan cara ditembak akan dirasakan
antara 10 - 20 menit. Kalau dengan cara disuntik, maka rasa sakit akan
dirasakan setidaknya 8 menit. Kalau disetrum...? Ada yang mau menebak?
Kira-kira sakit apa tidak? Kalau dengan digantung, maka rasa sakit akan
lebih lama. Maka sering kita saksikan orang yang bunuh diri dengan cara
menggantung, maka akan nampak mata membelalak, lidah terjulur keluar,
tangan mencengkeram kuat, serta keluar sperma dan feses (kotoran dari
dubur). Itu jelas sekali sebagai petunjuk bahwa rasa sakit luar biasa
akibat asphiksia (tercekik, oksigen tidak terkirim ke otak). Berarti,
hukuman mati dengan cara ditembak, disuntik, disetrum, maupun digantung
sangat MENYIKSA...!
Sedangkan kalau dengan dipenggal kepalanya, maka sekali tebas kepala
lepas. Sekilas nampak sangat mengerikan...! Namun, secara ilmiah
terbukti bahwa lepasnya kepala berarti terputusnya sumsum tulang
belakang (spinal cord) di tengah tulang leher. Spinal cord adalah kabel
penghubung antar aotak dan jantung. Maka jika kabel itu putus, maka
hubungan antara jantung dan otak otomatis langsung terputus. Otak tidak
lagi mendapat suplai oksigen dari jantung (melalui darah), dan jantung
kehilangan kontak dengan otak. Maka, jantung praktis langsung berhenti
berdetak...orangnya meninggal seketika! Apakah terpidana kesakitan?
Kalau kita menengok hasil penelitian di Hannover University di atas,
maka terbukti terpidana hukuman mati dengan cara dipenggal tadi tidak
merasakan sakit sama sekali. Selain itu, algojonya tidak mendzolimi
orang yang dihukum mati...! Subaahaanallahu...Allaahu Akbar...!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...