Senin, 29 April 2013

KEMATIAN USTADZ UJE TIDAK BAIK?



 



Kematian ust. Uje masih menyisakan duka yang mendalam bagi segenap lapisan masyarakat. Ustadz gaul ini memang banyak memiliki penggemar dari mulai anak muda hingga orang tua. Maka menjadi wajar bila semua orang merasa kehilangan da’i muda yang energik ini. Seperti diberitakan oleh berbagai media massa, Ust. Uje meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal saat mengendarai motor Kawasaki ER-6n. motor miliknya hancur lebur di kawasan Pondok Indah. Bahkan beliau terpental sejauh 4 meter hingga menjadikannya tiada.
 
Menyoal kematian ust. Uje ini ada beberapa suara di tengah masyarakat bahwa mati dalam kecelakaan adalah tanda tidak baik. Mendengar hal yang demikian, saya pun lalu mencoba mengomentari bahwa maut itu haq dan pasti akan datang menghampiri kita. Mati itu satu cuma sebabnya yang membedakan, seperti pepatah Arab :


Fal mautu wahidun, wa asbabuhu syatta
Artinya : Mati itu satu adapun sebabnya bermacam-macam.

Ada orang yang meninggal karena sakit perut. Maka sakit perut hanyalah satu dari sekian sebab kematian. Berbagai macam penyakit  diderita manusia hingga akhirnya menghantarkannya kepada kematian. Maka terhadap yang demikian itu kita hanya mampu berkata sakit hanyalah sebab, sedangkan kematian satu, ya kematian itu sendiri. 

Kecelakaan ust. Uje juga sebab dari kematian beliau. Bahkan ulama’ sekaliber KH Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, menteri Agama RI pertama kali pada cabinet Soekarno juga meninggal dalam kecelakaan. Usia beliau pada waktu itu baru 38 tahun. 

Sabtu 18 April 1953, KH Wahid Hasyim meluncur ke Sumedang untuk mengikuti rapat Nahdlatul Ulama (NU). Gus Dur kecil ikut bersama ayahnya di dalam mobil Chevrolet.

Di daerah Cimindi, jalan antara Cimahi dan Bandung, cuaca hujan dengan kabut yang mengganggu pandangan. Terjadilah kecelakaan maut itu. Mobilnya selip, sopir tak mampu menguasai mobil hingga membentur bak belakang truk.

Saking kerasnya tabrakan, tubuh KH Wahid Hasyim terlempar keluar. Pertolongan datang sangat terlambat. Ambulans baru datang pukul 16.00 WIB, sekitar tiga jam setelah kecelakaan.

KH Wahid Hasyim dibawa ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tak tertolong. Keesokan harinya dia meninggal. Berakhirlah jejak emas pengabdiannya untuk negara ini dan dunia Islam.
Apakah kemudian kita akan berani mengatakan kematian KH Wahid Hasyim tidak baik, atau tanda kematian tidak baik. 

Almarhum KH Daldiri Lempuyangan Yogyakarta juga meninggal dalam musibah kecelakaan. Padahal beliau adalah ulama’ hafidz qur’an yang disegani. Termasuk pakar yang memprakarsai berdirinya seaman Alqur’an dan mujahadah “Dzikrul Ghofilin” Yogyakarta. 

Almaghfurlah kyai rifa'i romly, rejoso peterongan jombang, juga meninggal karena kecelakaan. Dengan mengetahui beberapa kisah di atas, masihkan kita beramsusi kecelakaan adalah indikasi baik tidaknya kematian seseorang?

Umar bin Khottob, kalifah kedua setelah Abu Bakar, juga meninggal dalam keadaan sangat tragis. Beliau ditikam dari belakang ketka sholat subuh berjamaah. Usman bin Affan, Ali bin Ab Tholib juga mengalami hal serupa. Keduaya dibunuh oleh orang-orang yang keji. Apakah kematian yang demikian juga indkasi tidak baiknya seseorang??

Mungkin dalam benak kita masing-masing, tersimpan sebuah memori bahwa kematian yang baik itu adalah kematian adalam keadaan tenang, di atas pembaringan dengan ditunggui oleh anak cicit. Apalagi didahului dengan wasiat dan pesan-pesan penting untuk kemudian berpamitan dan menghembuskan nafas terakhir. Mantab nian…!! Dan siapapun kita pastilah menginginkan kematian yang seperti ini.
Tetapi lihatlah keadaan diri kita. 

Kita yang saban harinya mengendarai motor atau mobil juga akan terkena hukum posibilitas kematian kecelakaan. Jika kita bekerja di bangunan maka juga akan terkena kemungkinan mati tertimbun bahan bangunan, jatuh dari ketinggian ataupun kecelakaan di jalan ketika  menuju tempat kerja. Yang jadi guru juga terkena kemungkinan mati pada waktu mengajar, ataupun mati di perjalanan ketika berangkat mengajar atau selepas mengajar. Seorang penjudi bisa saja mati ketika di arena perjudian dan bisa juga mati di jalan ketika menuju ke tempat perjudian atau sepulang dari arena judi. Atau mati dengan sebab yang lainnya yang kita tidak pernah menyangka sebelumnya. 

Di luar itu semua bahkan didapati sebuah kenyataan ada seseorang yang sehat wal afiat sehabis melakukan olah raga mati ketika dia beristirakat menyandarkan tubuhnya. Kalau dilihat sepintas, apakah sebab kematian yang melarbelakanginya? Dia tidak sakit, dia tidak sesak nafas. Lalu apa penyebab kematiannya? Selaku orang awam anda pasti akan bingung. Tetapi bagi kalangan media, hal itu akan didapati setelah diadakan pemeriksaan menyeluruh terhadap organ tubuh yang bersangkutan. Mungkin jantung lemah, dehidrasi dan kecapekan akut dan sebagainya. 

still think about this???




 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...