Senin, 23 Januari 2012

PERTANYAAN AKAN SEBUAH KASIH SAYANG



Pembaca sekalian, pada bulan mendatang hampir seluruh remaja menantikan moment yang menurut sebagian mereka sangat-sangat special. Apa itu? Yakni hari kasih sayang, valentine day, 14 Pebruari. Jauh-jauh hari mereka telah menyiapkan kado,  coklat, bunga ataupun hadiah  istimewa untuk orang yang mereka sayangi. Ironinya itu semua mereka peruntukkan untuk yayang (pacar) mereka. Somebody yang mungkin baru dikenal beberapa minggu, bulan ataupun sekian tahun. Ada yang mereka lupakan, yaitu seseorang yang senantiasa menyayanginya, merindukannya, mengkhawatirkannya setiap saat, kasihnya  tanpa pamrih, tulus dan tidak mengharapkan balasan.  Namun justru ia luput dari perhatian. Siapakah dia. Dialah ibu kita. 



Coba bayangkan, saat bunda merindukanmu dan ingin memelukmu, kau justru merasa risih. Kau malu memperkenalkan bundamu kepada kekasihmu, teman-temanmu. Kau malu jika berjalan bersamanya. Kau merasa terganggu bila ia menelponmu atau menanyakan kabarmu. Kau lebih cepat membalas SMS kekasihmu, daripada membalas SMS ibumu. Engkau lebih perhatian kepda kekasihmu dengan memebrikan berbagai macam hadiah di setiap minggunya, terutama bulan ini, tapi sedikitpun engkau tidak pernah memberi sesuatu kepada ibumu.


Setiap kali berbicara tentang masalah kesuksesan, ada satu hal yang sering terlewatkan, yaitu kesuksesan membahagiakan hati orangtua. Tak dapat dipungkiri bahwa orangtua adalah orang yang paling berjasa dan paling besar andilnya dalam meraih sebuah kesuksesan. Tanpa kasih sayang mereka, tentu kita tak akan bisa tumbuh sempurna seperti saat ini. Tanpa do’a dan jerih payah mereka, tentu kita tidak akan pernah mencapai keberhasilan dalam kehidupan ini.

Kita melihat betapa banyak orang sukses meniti karier, sukses berbisnis, sukses meraih gelar akademik, namun sayangnya mereka semakin berani memarahi, bahkan membentak orangtuanya. Orangtua seringkali dianggap kolot dan ketinggalan jaman, hingga kata-katanya tidak perlu diindahkan. Orang-orang semacam ini, bukanlah orang yang sukses. Sekiranya mereka sukses, maka kesuksesan mereka tak lebih dari kesuksesan semu. Fatamorgana. Mereka sesungguhnya orang-orang gagal yang tidak tahu cara membalas budi.


Kesuksesan- Kesuksesan Semu!

Mengapa kesuksesan membahagiakan hati orangtua seringkali tidak dijadikan faktor utama dan pembahasan terpenting dalam menggapai sebuah kesuksesan? Jawabannya sederhana! Sebab kita lebih banyak belajar teori dan membaca buku-buku dari para motivator Barat.  Orang-orang Barat memandang kesuksesan selalu dari paradigma materialistis.

Sukses menurut mereka, adalah saat Anda berhasil meraih karier, populuritas, kekayaan, jabatan, memiliki banyak relasi dan teman atau apa pun yang berhubungan dengan kesenangan keduniawian, itulah yang namanya sukses. Oleh sebab itu, mereka berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara. Seringkali tanpa mengindahkan norma-norma kesusilaan dan aturan sosial kemasyarakatan. Jika kesenangan itu gagal mereka dapatkan, maka jalan terakhir yang mereka tempuh adalah dengan cara mengakhiri hidup alias bunuh diri. Inilah paradigma kesuksesan Barat!!!


Kita tak akan mendapatkan cara berbakti yang baik dari orang-orang yang tidak pernah menghormati orangtunya. Kita bisa melihat bagaimana orang Barat memperlakukan orang tuanya, tak lebih baik daripada barang-barang antik. “Segala yang tua-tua mendapatkan perawatan dan pemeliharaan yang serius, kecuali orangtua.” Itulah diantara kesan menonjol yang mudah tertangkap, jika suatu saat Anda berkesempatan berjalan-jalan di kota-kota Eropa seperti: Inggris, Jerman, Belanda, atau Perancis.


Mobil-mobil tua, guci dan keramik tua, perhiasan-perhiasan tua, peralatan tua, perkakas tua, bahkan perkamen yang berusia ratusan tahun dirawat dengan seksama di dalam museum dengan biaya pemeliharaan yang sangat besar. Namun, tidak demikian dengan orangtua. Mereka hanya dimasukkan ke panti-panti jompo. Anak-anak mereka tidak mau lagi bersanding atau merawatnya.


Bukan cerita menarik lagi, kalau semakin lanjut usia orangtua, mereka dianggap semakin merepotkan dan mengganggu aktivitas anak-anaknya. Kalau sudah begitu, maka tak jarang sang anak akan menawarkan, “Ibu mau tinggal di panti jompo yang mana?” atau “Biar pembantu nanti yang merawat Ayah!”

Jika orangtuanya sudah dirawat di panti jompo, jangan harap sang ayah atau ibunya mudah untuk bertemu kembali dengan anak-anaknya. Jika ingin bertemu mereka harus buat janji, atau paling tidak mereka harus menelpon terlebih dahulu. Jika tidak sesuai jadwal, anak-anaknya tak segan-segan memarahi orangtuanya, bahkan mengusirnya dari rumah mereka. Astaghfirullah…


Bahkan, yang paling mengenaskan, ada seorang anak yang diberitakan bahwa orangtuanya meninggal dunia. Dia beralasan masih sibuk dengan aktivitas bisnisnya, dan sama sekali tidak ada waktu untuk datang. Kendatipun hanya sekedar melihat wajah orang tuanya untuk yang terakhir kalinya. Ia cukup menghubungi sebuah yayasan untuk mengurusi semua keperluan yang berhubungan dengan jenazah, hingga urusan pemakaman. Inilah sisi dari peradaban “modern” Barat yang menggambarkan bagaimana nasib orang-orang tua di negara yang katanya mengagung-agungkan HAM (Hak Asasi Manusia)!!!


Jangan Biarkan Air Matanya Menetes Lagi!

Sobat, kendatipun perilaku bangsa kita tidak sekejam orang-orang Barat, namun sedikit banyaknya generasi muda kita telah mempraktekkan bagaimana mereka menganggap berani melawan orangtua sebagai sikap kedewasaan, disamping trend ala “sinetron remaja”.

Seorang anak ABG masih dianggap “anak mami” jika masih nurut kata orangtuanya. Seseorang dianggap pengecut, bila belum mampu berteriak-teriak memaki-maki orangtuanya, marah sembari membanting pintu kamar keras-keras, atau memecahkan peralatan rumah tangga. Semua itu didapatkan dari pelajaran tontonan sinetron-sinetron dan tayangan film di televisi. Tentu saja, media massa dalam hal in harus turut bertanggung jawab atas kemerosotan moral generasi muda!!!


Tayangan-tayangan dan acara-acara infotainment pun, tak jarang secara tidak langsung memberikan pengajaran bagaimana para artis memperlakukan orang tuanya. Sering kali kita saksikan ada seorang artis yang berseteru dengan ibunya. Bahkan, dia mengadakan jumpa pers untuk memberitahukan kejelekan ibunya. Ada pula yang tidak mau mengunjungi rumah ibunya, ketika sudah populer menjadi tokoh publik. Anehnya, mereka bangga dengan perilaku semacam ini, dan ironisnya lagi,  sedikitpun kita tidak merasa risih menjadikan mereka sebagai idola. Bahkan, ikut-ikutan semakin berani menentang orang tua!!! Benar-benar masya Allah…


Tanpa pernah kita sadari seringkali kali kita menganggap orangtua, khususnya ibu sebagai orang yang cerewet, suka mengatur, suka ngomel, kolot, atau tudingan miring yang membuat kita risih dan tidak suka berada didekatnya. Bila ia menasehati dianggap sebagai omelan, sehingga kita harus menutup telinga rapat-rapat, seakan-akan tidak ingin lagi mendengarkan suaranya, atau membunyikan musik secara keras-keras. Bila ia memarahi, bisa saja suara kita membalas dengan suara teriakan yang lebih keras, membentak-bentak, mengancam akan meninggalkannya atau justru “mogok bicara” selama berhari-hari. Lahaulawalaquwwata illa billah…


Pada saat yang deimikian itu, jangan mengira ibu tidak perih hatinya terhadap perlakuan kasar kita. Namun, lantaran besarnya kasih sayangnya ia redam emosinya, ia tahan kata-kata kasarnya. Tak jarang ia hanya mengurut-urut dadanya yang semakin sesak. Apalah daya seorang ibu saat melihat anak yang bersusah payah dirawat dan dibesarkan, ternyata pada saat sudah besar berani bersikap kasar padanya. Tak ada yang dapat ia lakukan, selain hanya tangisan kekecawaan. Namun, jangan kau anggap tangisan itu sebagai tangisan kekalahan. Tangisan itu adalah tangisan dahsyat yang mampu membuat ‘arsy bergoncang hebat. Tangisan itu adalah tangisan yang mengundang murka Tuhan. Nauzubillah…

Sobat, jangan biarkan air matanya menetes lagi. Sudah cukup banyak ia mengeluarkan air mata kesedihan gara-gara perilakumu. Pada saat kau berada di janinnya, kau begitu kuatnya menghentak-hentakkan kakimu menendang dinding rahimnya, hingga membuatnya meringis kesakitan. Saat ibumu melahirkan, ia berjuang antara hidup dan mati, antara air mata dan darah.


Sobat! Mari bayangkan bila jika ibunda yang kita anggap cerewet, kampungan, ketinggalan jaman, “tukang ngomel” itu sudah tidak ada lagi. Bayangkan jika ia terbujur kaku tak bergerak. Pada saat itu, kita tidak pernah lagi mendengar omelannya. Kita tidak akan pernah melihat wajahnya lagi. Dan kita tidak akan membuat air matanya menetes lagi untuk selama-lamanya!!!

Selama bundamu masih hidup, di sanalah kesempatanmu untuk membahagiakannya. Buatlah bibirnya tersenyum, lantaran hatinya bangga memiliki anak sepertimu. Do’akanlah bundamu dalam setiap munajatmu. Dialah orang yang paling berharga yang kau miliki. Nilai kasih sayang seorang ibu tak sebanding dengan nilai keseluruhan isi dunia. Ia t’lah menangis bersimpuh darah manakala melahirkanmu. Maka saatnya kau harus membuatnya tersenyum bahagia, sebagaimana kebahagiannya saat menyambut kelahiranmu! Jangan biarkan ada air mata lagi yang menetes, setelah begitu banyak air matanya yang kau tumpahkan!


Bandingkan kasih sayangmu

Lelaki itu telah puluhan tahun merawat dan melayani ibunya yang lumpuh. Ia menyuapi, memandikan, menggendong, serta membersihkan hadats sang ibu. Dengan ikhlas ia menggantikan pakaian, menyisiri rambutnya, mewudhuinya setiap shalat 5 waktu. Ia berbakti, karena ia tahu cara membalas budi. Ia lakukan semata-mata menjunjung perintah agama.

Sampai suatu ketika, lelaki itu bertanya kepada Sayyidina Umar al-Khatab, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah pengabdianku ini sudah cukup membalas budi baik ibuku?” Sayyidina Umar menjawab, ”Tidak! Tidak sebanding dengan perngorbanannya merawatmu! Kau merawatnya sembari menunggu kematiannya, sedangkan ia merawatmu sembari mengharap kehidupanmu!!!


Yach, kita merawat bunda yang tua sembari menunggu kematiannya, sedangkan ia merawat sembari mengharap kehidupan kita!!!

Sobat, mari sejenak merenungi keadaan kita saat ini! Bagaimana dirimu bisa tumbuh menjadi sehat sempurna, siapakah yang merawatmu? Siapakah yang menyusuimu? Siapa yang menggendongmu saat kau merengek menangis? Siapa yang memandikanmu? Siapa yang setia merawatmu saat kau sakit? Siapa yang pertama kali mengajarkanmu berbicara?

Ibumu! Ibumu! Ibumu!” Tiga kali berulang-ulang Rasulullah Saw mengatakan kepada seorang pemuda yang bertanya kepada siapakah ia lebih utama berbakti? Pada jawaban keempat barulah Rasulullah Saw bersabda: “Ayahmu!” Seorang Ayah juga berperan banyak dalam kehidupanmu, tapi perannya tak tergantikan oleh peran bundamu.

Oleh karenanya Bang Haji melalui syairnya memberikan sesorah kepada kita :


Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu

Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya

Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja

Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua


Saat kau berumur 1 tahun, ibu menyuapimu dan memandikanmu, sebagai balasannya kau menangis sepanjang malam. Saat kau berumur 2 tahun, bunda mengajarkanmu berjalan, saat bundamu memanggilmu, kau balas kabur meninggalkannya berlari. Saat kau berumur 3 tahun, bunda memasakkan makanan untukmu, namun kau balas dengan menumpahkannya karena kau memang tidak suka makanan itu. saat kau berumur 4 tahun, bunda membelikanmu spidol untuk mengajarimu menggambar, kau malah membalas dengan mencoret-ceoret dinding dan kordennya.


Saat kau berumur 5 tahun, bunda membelikan baju baru yang bagus dan mahal, tapi kau balas mengotorinya dengan bermain-main tanah dan lumpur. Saat kau berusia 6 tahun, ia mengantarmu ke sekolah, kau justru berontak tidak mau sekolah. Saat kau berusia 7 tahun, bunda membelikanmu bola, kau justru memecahkan kaca tetangga. Masya Allah!

Seringkali kita meminta bunda agar ia memenuhi keinginan-keinginan kita yang sejatinya diluar batas kemampuannya. Namun, seringkali pula satu permintaanya tidak mampu kita tunaikan. Kita seringkali menjadi raja, bila orangtua kaya. Ironisnya, seringkali pula bunda menjadi pembantu bila sang anak yang berkuasa.


Mengapa hidup kita seringkali dirundung musibah, hutang menumpuk, rezeki mampet, bala bencana datang bertubi-tubi? Coba chek and recek dulu! Siapa tahu ada kesalahan kita kepada orangtua yang belum tertebus. Siapa tahu mereka belum tulus memaafkan kesalahan kita. Sebab kehidupan kita tak akan pernah barokah, selama masih ada secuil rasa kecewa yang masih mengendap di relung hati bunda. Kunci sukses adalah membahagiakan hati orangtua. Di sanalah sumber keridhaan Allah. “Ridha Allah terletak dalam ridha kedua orangtua, murka Allah terletak pada murka kedua orangtua,” begitulah menurut hadits Nabi kita.


Salah seorang sahabat mendatangi Rasulullah Saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimanakah cara aku berbakti kepada orangtuaku?” Rasululullah Saw. bersabda, “Berdo’alah, ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan kedua orangtuaku. Kasihanilah mereka sebagaiamana mereka mengasihi aku sewaktu kecil.” Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Dailamy, Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila seseorang meninggalkan do’a bagi orangtuanya, maka akan terputus rezekinya.” Wallohu a'lam bis showab.





Sumber  : http://www.masisironline.com/2010/10/21/the-great-power-of-mother-prayer%E2%80%99s-part-i/
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...