Jumat, 23 November 2012

Who is The real terorist?

Kaleidoskop Kejahatan Bangsa Terlaknat Zionis Yahudi 1946-2008

Berikut jejak kejahatan, daftar kebrutalan dan kaleidoskop kriminal yang dilakukan Zionis Yahudi terhadap saudara kita, kaum Muslimin Palestina dan sekitarnya:
1. Pada Tahun 1946; terjadi pembantaian King David, 92 tewas.
Serangan ini dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan sepengetahuan David Ben Gurion, pejabat teras Zionis dalam masa itu. Sejumlah total 92 orang, terdiri atas orang Inggris, Palestina, dan Yahudi terbunuh dan 45 orang terluka parah.
2. Pada Tahun 1947; terjadi pembantaian Baldat al-Shaikh, 60 tewas.
Enam puluh orang Palestina yang tengah terlelap di tempat tidurnya, di antara mereka para wanita, anak-anak, dan orang tua, kehilangan nyawanya karena serangan ini, yang dilakukan oleh 150-200 personil teroris Zionis. Serangan dimulai pada pukul 2 pagi dan berlangsung selama 4 jam.



3. Pada Tahun 1947; terjadi pembantaian Yehida, 13 tewas.
Di Yehida, salah satu pemukiman pertama Zionis, para penyerang yang berpakaian seperti tentara Inggris menembaki orang-orang Islam.
4. Pada Tahun 1947; terjadi pembantaian Khisas, 10 tewas.
Dua mobil yang dipenuhi anggota-anggota Haganah memasuki desa Khisas di perbatasan Libanon dan melakukan penembakan pada seseorang yang melintasi jalan mereka.
5. Pada  Tahun 1947; terjadi pembantaian Qazaza, 5 anak-anak tewas.
Lima anak kehilangan jiwanya dalam peristiwa ini, ketika teroris Zionis menembaki sebuah rumah dengan membabi buta.
6. Pada  Tahun 1948; terjadi Peledakan Hotel Semirami, 19 tewas.
Dalam sebuah operasi yang ditujukan untuk membuat orang-orang Palestina merasa tidak aman dan memaksa mereka keluar dari Yerusalem, sekelompok teroris Zionis yang dipimpin oleh Presiden Israel pertama, David Ben Gurion, meledakkan Hotel Semirami. Sembilan belas orang terbunuh.
7. Pada Tahun 1948; terjadi pembantaian Naser al-Din,
Sekelompok teroris Zionis berpakaian tentara Arab menembaki penduduk kota yang meninggalkan rumahnya untuk menyambut mereka. Hanya 40 orang yang lolos dari pembunuhan ini, dan desa tersebut terhapus dari peta.
8. Pada Tahun 1948; terjadi pembantaian Tantura, 200 tewas.
Tantura, sekarang rumah dari sekitar 1500 pemukim Yahudi, adalah sebuah tempat pembantaian besar-besaran atas orang-orang Islam pada tahun 1948. Sejarawan Yahudi Teddy Katz menggambarkan serangan ini sebagai berikut: “Dari jumlahnya, ini benar-benar salah satu pembantaian yang terbesar.”
9. Pada tahun 1948; ribuan orang Palestina mencari tempat berlindung karena diusir secara paksa dari rumah-rumah mereka oleh militer Zionis setelah Israel memproklamirkan “negara”nya. Sebagian besar orang-orang Palestina itu akhirnya tinggal di Lebanon.
10. Pada tahun 1948; terjadi pembantaian Mesjid Dahmash, 100 tewas.
Batalalion Komando Israel ke-89 yang dipimpin oleh Moshe Dayan, yang nantinya menjadi Menteri Pertahanan, mengumumkan kepada penduduk desa bahwa mereka akan aman hanya jika mereka berkumpul di mesjid. Akan tetapi, 100 orang Islam yang mencari tempat perlindungan tersebut justru dibantai di sana. Para penduduk yang ketakutan di Lydda dan Ramla meninggalkan tanahnya. Sekitar 60.000 orang Palestina keluar dari negerinya, dan 350 orang lebih tewas dalam perjalanan karena keadaan kesehatan yang parah.
11. Pada tahun 1948; terjadi pembantaian Dawayma, 100 tewas.
Serangan ini merupakan pembantaian terbesar yang dilakukan Israel. Sebagian besar yang terbunuh tengah berada di mesjid untuk melakukan sholat Jum’at. Wanita-wanita Palestina diperkosa selama serangan ini, sementara rumah-rumahnya diledakkan dengan dinamit, padahal ada orang di dalamnya.
12. Pada tahun 1948; terjadi pembantaian Houla, 85 tewas.
Tentara Israel memaksa 85 orang untuk masuk ke dalam sebuah rumah, kemudian rumah itu dibakar. Setelah itu, sebagian besar warga yang merasa takut melarikan diri ke Beirut. Dari 12.000 penduduk asli Houla, hanya 1200 orang yang tersisa.
13. Pada tahun 1948; terjadi pembantaian Salha, 105 tewas.
Setelah penduduk suatu desa dipaksa masuk ke mesjid, orang-orang tersebut dibakar hingga tak seorang pun yang tersisa hidup-hidup.
14. Pada tahun 1948; terjadi pembantaian Deir Yassin, 254 tewas.
Kenyataan bahwa agenda dunia dikendalikan oleh media Barat, yang sebagian besarnya memihak Israel, kadangkala mencegah peristiwa-peristiwa di Israel untuk diungkap. Namun, beberapa kejadian seperti kekerasan dan kekejaman telah didokumentasikan secara terperinci oleh lembaga-lembaga internasional. Inilah salah satu dari kejadian-kejadian itu, yang dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan Stem.
Pada malam 9 April, 1948, penduduk Deir Yassin terbangun karena perintah “mengosongkan desa” yang disuarakan oleh pengeras suara. Sebelum mereka mengerti apa yang tengah terjadi, mereka telah dibantai. Penyelidikan Palang Merah dan PBB yang dilakukan berturut-turut di tempat kejadian menunjukkan bahwa rumah-rumahnya pertama-tama dibakar lalu semua orang yang mencoba melarikan diri dari api ditembak mati. Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, hidup-hidup. Anggota tubuh korban dipotong-potong, lalu anak-anak dihantam dan diperkosa. Selama pembantaian Deir Yassin, 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh sedang kepalanya dipenggal. Lebih dari 60 orang wanita terbunuh lalu tubuh-tubuh mereka dipotong-potong.Salah satu wanita yang melarikan diri hidup-hidup menceritakan pembantaian massal yang ia saksikan sebagai berikut:
" Saya melihat seorang tentara memegangi saudara perempuan saya, Saliha al-Halabi, yang sedang hamil sembilan bulan. Ia menyorongkan sebuah senjata mesin pada lehernya, lalu memberondongkan seluruh pelurunya kepada saudara saya. Lalu ia beralih menjadi seorang jagal, ia mengambil sebuah pisau lalu menyayat perutnya hingga terburai lalu mengeluarkan janinnya yang telah mati dengan pisau Nazinya yang tak berprikemanusiaan."
Tidak puas hanya dengan pembantian, para teroris lalu mengumpulkan seluruh perempuan dewasa dan remaja yang masih hidup, menanggalkan seluruh pakaian mereka, membaringkan mereka di mobil terbuka, membawa mereka sepanjang jalan daerah Yahudi di Yerusalem dalam keadaan telanjang. Jacques Reynier, perwakilan Palang Merah Palestina pada saat itu, yang melihat potongan-potongan mayat selama kunjungannya ke Deir Yassin pada hari serangan itu, hanya bisa berkata: “Keadaannya sudah mengerikan."
Selama diadakannya serangan, 280 orang Islam, di antara mereka wanita dan anak-anak, mula-mula diarak di sepanjang jalan lalu ditembak seperti menjalani hukuman mati. Sebagian besar wanita yang masih remaja diperkosa sebelum ditembak mati, sedangkan remaja pria dikebiri kemaluannya.
Harus dijelaskan bahwa para teroris yang melakukan pembantaian massal ini bukanlah anggota organisasi radikal yang bertindak di luar hukum atau menentang kendali pemerintah; justru mereka itu dikendalikan langsung oleh pemerintah Israel. Pembantaian Deir Yassin dilakukan oleh kelompok Irgun dan Stern, di bawah kepemimpinan langsung Menachem Begin, yang di kemudian hari menjadi perdana menteri Israel.
Begin menggambarkan operasi tak berprikemanusiaan ini, yang hanyalah salah satu contoh dari kebijakan resmi kebrutalan Israel, dalam kata-kata: "pembantaian ini tidak hanya bisa dibenarkan, justru, tidak akan ada negara Israel tanpa ‘kemenangan’ di Deir Yassin." Para Zionis menjadikan serangan seperti itu untuk menteror orang-orang Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka sehingga imigran Yahudi punya tempat untuk hidup. Israel Eldad, seorang pemimpin Zionis yang terkenal, menyatakan hal ini secara terbuka ketika ia berkata: "Jika tidak ada Deir Yassin, setengah juta orang Arab akan tetap tinggal di negara Israel (pada tahun 1948). Negara Israel tidak akan pernah ada."
Para Zionis menganggap pembersihan etnis seperti ini sebagai hal teramat penting untuk mendirikan negara Israel. Memang operasi-operasi ini, yang dilanjutkan setelah serangan Deir Yassin, menyebabkan banyak orang-orang Palestina meninggalkan tanahnya dan melarikan diri, atau menderita nasib yang sama seperti penduduk Deir Yassin.
15. Pada 3 November 1952; pasukan Yahudi menduduki Khan Yunus dan perkemahan al-Wakalah yang bersebelahan dengannya. Mereka membunuh warga sipil dalam jumlah besar hingga mencapai 275 jiwa.
16. Pada tahun 1953; terjadi pembantaian di Qibya, 96 tewas.
Serangan Zionis lainnya yang dirancang untuk “mendorong” orang-orang Palestina melarikan diri terjadi di Qibya, suatu desa dengan penduduk 2000 orang di perbatasan Yordania. Penyelidikan lebih lanjut di tempat kejadian yang dilakukan oleh beberapa pengamat dengan jelas mengungkap bagaimana pembantaian terjadi. Pembantaian Qibya, yang terjadi pada 13 Oktober 1953, meliputi penghancuran 40 rumah dan pembunuhan 96 orang sipil, sebagian besar di antara mereka wanita dan anak-anak. Unit “101” ini dipimpin oleh Ariel Sharon, yang nantinya juga menjadi salah satu perdana menteri Israel. Sekitar 600 tentaranya mengepung desa itu dan memutuskan hubungannya dengan seluruh desa Arab lainnya. Begitu memasukinya pada pukul 4 pagi, para teroris Zionis mulai secara terencana memusnahkan rumah-rumah dan membunuh penduduk-penduduknya. Sharon yang kalem, yang langsung memimpin serangan tersebut, mengumumkan pernyataan berikut setelah pembantaian: “Perintah telah dilaksanakan dengan sempurna: Qibya akan menjadi contoh untuk semua orang."
Dr. Yousif Haikal, duta besar Yordania untuk PBB pada saat itu, menerangkan pembantaian ini dalam laporannya kepada Dewan Keamanan:
Orang-orang Israel memasuki desa dan secara terencana membunuh seluruh penghuni rumah, dengan menggunakan senjata-senjata otomatis, granat, dan bom bakar; lalu mendinamit rumah yang ada penghuninya… Empat puluh rumah, sekolah desa, dan sebuah waduk dihancurkan. Dua puluh dua ternak dibunuh dan enam toko dijarah.
Jurnal Katolik terkenal The Sign, yang diterbitkan di Amerika Serikat, juga melaporkan pembantaian massal yang dilakukan selama serangan ini. Editor Ralph Gorman menerangkan pemikirannya sebagai berikut: “Teror menjadi sebuah senjata politik Nazi. NamunNazi tidak pernah menggunakan teror dengan cara yang lebih berdarah dingin dan tanpa alasan seperti yang dilakukan Israel dalam pembantaian di Qibya."
Orang-orang yang kemudian datang ke tempat pembantaian ini menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Sebagian besar mayat mengalami luka tembak di belakang kepala, dan banyak yang tanpa kepala. Bersama orang-orang yang tewas di bawah reruntuhan rumah mereka, banyak wanita-wanita dan anak-anak tak berdosa yang juga dibunuh secara brutal.
17. Pada tahun 1956; terjadi pembantaian Kafr Qasem, 49 tewas.
Serangan di Kafr Qasem, ketika 49 orang tak bersalah, tanpa memandang wanita atau anak-anak, tua atau muda, dibunuh dengan brutal, terjadi pada 29 Oktober 1956. Pada hari itu juga, Israel melancarkan serangannya atas Mesir. Tentara garda depan Israel melakukan pembersihan sekitar pukul 4 sore, dan menyatakan bahwa mereka telah mengamankan perbatasan. Mereka berkata pada pejabat setempat di kota-kota perbatasan bahwa jam malam untuk kota tersebut mulai hari itu akan dimulai pukul 5 sore, bukan 6 sore seperti biasanya. Salah satu kota tersebut adalah Kafr Qasem, di dekat pemukiman Yahudi di Betah Tekfa.
Para penduduk kota baru diberitahu tentang jam malam tersebut pada pukul 4.45 sore. Pejabat
setempat memberi tahu tentara Israel bahwa sebagian besar penduduk kota bekerja di luar kota, dan begitu mereka kembali dari kerjanya, mereka tidak mungkin mengetahui tentang perubahan tersebut. Pada saat yang sama, tentara Israel mulai mendirikan barikade di jalan masuk kota. Sementara itu, orang-orang yang bekerja di luar kota pun mulai kembali ke rumahnya. Kelompok pertama segera mencapai perbatasan kota. Apa yang terjadi berikutnya diceritakan oleh saksi mata Abdullah Samir Bedir:
Kami mencapai pintu masuk desa sekitar pukul 4.55 sore. Kami tiba-tiba dihadang oleh unit garda depan yang terdiri atas 12 tentara dan seorang pejabat, yang semuanya diangkut sebuah truk tentara. Kami memberi salam kepada pejabat dalam bahasa Ibrani, dengan berkata “Shalom Katsin”yang berarti “salam untuk Bapak,” tapi tak ada tanggapan. Dia kemudian menanyai kami dalam Bahasa Arab: “Apakah kalian bahagia?” lalu kami menjawab “Ya.” Para tentara mulai keluar dari truk dan sang pejabat memerintahkan kami untuk berbaris. Lalu ia menyerukan perintah ini kepada tentaranya: “Laktasour Otem,” yang berarti “Bereskan mereka!” Para tentara mulai menembak.
Bedir, yang melarikan diri dari percobaan pembantaian yang mengerikan ini dengan berjudi antara hidup dan mati, sebenarnya bukanlah satu-satunya saksi mata kekejaman ini. Mulai saat itu, tentara Israel menghentikan setiap kendaraan yang mencoba memasuki kota itu dan menembak mati orang-orang di dalamnya. Di antara mereka ada anak laki-laki berusia 15 dan 16 tahun, remaja putri, dan wanita hamil. Orang-orang yang mendengarkan keributan dan keluar melihat apa yang terjadi ditembak karena melanggar jam malam begitu mereka melangkah ke luar. Tentara Israel diperintahkan bukan untuk menahan, melainkan menembak mati semua yang melanggar jam malam.
Kejadian ini, yang dilaporkan seluruhnya dalam catatan resmi Parlemen Israel, adalah salah satu contoh yang paling mengejutkan dari kebijakan resmi Israel.
18. Pada tahun 1956; terjadi pembantaian Khan Yunis, 275 tewas.
Tentara Israel yang menyerang kamp pengungsi di Khan Yunis membunuh 275 orang. Pejabat PBB yang melakukan penyelidikan di tempat kejadian menemukan korban-korban yang telah ditembak dari belakang kepalanya setelah tangannya diikat.
19. Pada tahun 1956; terjadi pembantaian di Kota Gaza, 60 tewas.
Dalam serangan ini, para Zionis membunuh 60 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
20. Pada 5 April 1956; Yahudi menghujani Gaza dengan roket hingga menewaskan 56 warga sipil dan meluaki 103 orang yang lain.
21. Pada 14 Juli 1956; atase perdagangan Mesir di Oman dibunuh dengan cara dipasangi ranjau.
22. Pada 29 Oktober 1956; di sore hari, segerombolan Zionis melakukan pembantaian berdarah di Kafr al-Qasim, yang menelan korban 49 tewas, dan 13 luka-luka.
23. Pada 12 Desember 1956; pasukan Yahudi melancarkan penyerbuan ke kamp pengungsi di Rafah. Mereka memberondongkan peluru ke penghuninya sehingga tewaslah 111 orang yang tidak berdosa.
24. Pada 13 November 1966; pasukan Yahudi menyerang perkampungan al-Samu’ di wilayah al-Khalil, mereka mnghancurkan 125 rumah penduduk dan di antaranya adalah sebuah madrasah, klinik dan masjid, tewaslah 18 orang dan terluka 130 orang. Semuanya adalah warga sipil.
25. Pada 20 Desember 1967; pasukan Yahudi membombardir kamp pengungsi di daerah al-Karamah Yordania yang menewaskan 14 orang, di antaranya adalah seorang guru madrasah dan 3 anak-anak, serta melukai 28 yang lain.
26. Pada Juni 1967; Yahudi mencaplok Jalur Gaza yang sebelumnya dikuasai oleh Mesir selama perang. Menurut sensus Yahudi saat itu, populasi penduduk di Jalur Gaza hanya 380.000 jiwa, dan setengahnya merupakan pengungsi dari Israel. Saat ini, populasi di wilayah seluas 360 km persegi tersebut mencapai 1,5 juta jiwa, dengan jumlah pengungsi beserta keluarganya mencapai 1 juta jiwa.
27. Pada 15 Februari 1968; pesawat-pesawat Yahudi membombardir dengan bom Napalm lebih dari 15 desa dan satu kamp pengungsi Palestina di sepanjang sungai Yordania, menewaskan 56 orang dan melukai 82 yang lain.
28. Pada 28 Desember 1968; pasukan Yahudi melancarkan serangan udara di atas bandara Internasional Beirut, yang menghancurkan 13 pesawat milik penerbangan sipil yang tengah parkir di bandara.
29. Pada 2 Februari 1969; pasukan bersenjata Yahudi menyerang siswi-siswi SMU di Gaza, dan mengenai 90 siswi.
30. Pada 8 April 1970; pesawat Yahudi menyerang sebuah pabrik di daerah Abu Za’bal Mesir, yang menewaskan 70 pekerja dan melukai 98 yang lain.
31. Pada April 1973; tentara elit Zionis (termasuk Ehud Barak yang menyamar sebagai wanita) memasuki kota Beirut dan menembak mati 3 orang Palestina.
32. Pada 30 Februari 1976; terjadi pembantaian di kawasan al-Khalil yang menewaskan 6 orang Palestina.
33. Pada tahun 1978, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 425 agar Yahudi keluar dari dataran Lebanon. Yahudi dengan arogannya menolak resolusi tersebut.
34. Pada Maret 1978; tentara Zionis menyerang posisi PLO di Lebanon Selatan dan menduduki 10 km² (6 mil) dari perbatasan Lebanon Utara.
       Kurang lebih 1.500 penduduk sipil baik dari pihak Lebanon dan Pakistan terbunuh.
35. Pada tahun 1981; terjadi pembantaian Fakhani, 150 tewas.
       Akibat serangan udara Israel atas daerah Libanon, 150 orang tewas dan 600 luka-luka.
36. Pada 7 Juni 1981; 14 pesawat tempur Yahudi menyerang reaktor nuklir Irak di Baghdad Irak, dengan menjatuhkan bom seberat 2000 Rithl yang memporak-porandakan    reaktor tersebut.
37. Pada tahun 1981; Zionis melancarkan serangan udara di atas kota Beirut dan telah membunuh ratusan penduduk sipil.
38. Pada Juli 1982; Zionis menyerbu Lebanon dengan alasan ingin menaklukkan gerilyawan Palestina. Menteri Pertahanan Israel saat itu, Ariel Sharon, berjanji akan menghentikan tentaranya setelah 40 km² (25 mil), namun justru tentaranya telah mengepung kota Beirut 40 km² jauh ke Utara. Setelah tentara Zionis Israel membombardir daerah tersebut, lebih dari 20.000 penduduk sipil Lebanon dan Palestina terbunuh.
39. Pada 16 sampai 18 September 1982; pasukan Yahudi terlibat pembantaian yang sadis terhadap warga sipil yang tidak bersenjata di kamp Shabra dan Syatilla sebelah selatan Libanon, yang berlangsung selama 40 jam berturut-turut, menewaskan 3.500 jiwa baik laki-laki, perempuan dan anak-anak.Setelah itu PM Yahudi berkata: “Benar, kami memang telah membunuh 3.500 hewan yang berjalan di atas dua kaki.”
Operasi teroris Zionis untuk menakut-nakuti orang Palestina dan mengusir mereka dari tanah mereka setelah PD II mengakibatkan kematian ribuan orang-orang tak berdosa. Namun, serangan Israel atas kamp pengungsi Sabra dan Shatilla selama penyerangan Libanon 1982 akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tindakan pembantaian etnis terburuk yang pernah dilakukan oleh Zionis. Selama serangan oleh kelompok Phalangis Kristen Libanon, dengan dukungan dan arahan tentara-tentara Israel, lebih dari 3000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, terbunuh. Penelitian dan penyelidikan setelah itu memperlihatkan bahwa Ariel Sharon, yang saat itu menteri pertahanan Israel dan sekarang perdana menteri, bertanggung jawab atas operasi tersebut. Karena serangan berdarah ini, sekarang pun ia masih dikenal sebagai “Tukang Jagal dari Libanon."
Wartawan dan ahli Timur Tengah Robert Fisk melaporkan pemandangan mengerikan yang ia lihat segera setelah serangan tersebut dalam sebuah artikel yang ditulis setelah Sharon terpilih sebagai perdana menteri:
Bagi setiap orang yang berada di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla di Beirut pada 18 September 1982, namanya (Ariel Sharon) sama artinya dengan penjagalan, dengan mayat-mayat yang membengkak, dengan wanita-wanita yang terburai isi perutnya, dengan mayat-mayat bayi, dengan pemerkosaan, dan penjarahan dan pembunuhan… Bahkan ketika saya berjalan di atas jalan-jalan yang berbau busuk ini, lebih dari 18 tahun setelahnya… hantu-hantu masih bergentayangan.
Di sana, di sisi jalan yang mengarah ke mesjid Sabra, berbaring Tn. Nouri, 90 tahun, berjanggut putih, berpiama dengan topi wol kecil yang masih melekat di kepalanya dan sebuah tongkat di sisinya. Saya menemukannya di atas tumpukan sampah, di punggungnya… Masih di jalan yang sama, saya berjalan melintasi dua orang wanita yang duduk tegak dengan otak tercerai berai, di samping tungku dapur… salah satu wanita itu kelihatannya lambungnya pun terburai.
Beberapa meter jauhnya, saya menemukan bayi-bayi pertama, sudah menghitam karena membusuk, bergelimpangan di atas jalanan seperti sampah… lalat-lalat mengerubung berlomba-lomba di antara mayat-mayat dan muka-muka kami, di antara darah kering dan catatan wartawan, tangan-tangan dengan arloji masih berdetak di pergelangan yang mati. Saya naik merangkak ke atas benteng tanah, sebuah bulldozer yang telah ditinggalkan berdiri di dekatnya dengan perasaan bersalah, hanya untuk merasakan, bahwa begitu saya berada di atas gundukan itu, ia bergelayutan di bawah saya.
Dan saya melihat ke bawah untuk menemukan muka-muka, siku-siku, mulut-mulut, kaki-kaki seorang perempuan menonjol ke luar dari dalam tanah. Saya harus berpegangan pada bagian-bagian tubuh ini untuk memanjat ke sisi lain. Lalu di sana ada wanita cantik, kepalanya dikelilingi oleh cahaya kancing-kancing baju, darahnya masih mengalir dari sebuah lubang di punggungnya.
Dalam artikel lain, Fisk menggambarkan apa yang ia lihat ketika mengunjungi rumah-rumah sakit tempat orang-orang terluka tengah dirawat: “Apa yang kita lihat di sini tidak akan mudah kita lupakan. Mengunjungi rumah sakit Barbir berarti melihat apa yang dilakukan berondongan senjata pada daging.
Kekejaman yang dialami orang-orang tak bersalah dan mengenaskan ini haruslah menjadi peringatan bagi ideologi kepemimpinan Israel. Sebagian besar wanita yang terbunuh itu telah diperkosa. Para wanita hamil dirobek perutnya sehingga bayi-bayinya bisa direnggut keluar. Anak-anak sekitar 3 atau 4 tahun dibunuh di depan orang-orang tuanya. Kebanyakan lelaki dipotong telinga dan hidungnya sebelum ditembak mati.
Sebuah laporan berita tentang pembantaian muncul pada surat kabar Prancis Le Monde pada 13 Februari 2001. Nihad Hamad, yang berhasil selamat, sekarang berusia 42 tahun, menggambarkan apa yang telah terjadi:
Angkatan bersenjata Israel menghabiskan Rabu malam dan Kamis pagi mengepung kamp tersebut. Mereka ingin menutup sisi timurnya. Para mujahidin kami telah pergi. Di sini tak ada yang tertinggal selain beberapa anak berumur 15 atau 16… Pada Kamis malam, pengeboman terjadi dua kali. Kami sadar bahwa senapan ringan kami tidak akan ada gunanya. Setiap orang di bangunan ini adalah pengungsi. Setiap orang merasa takut. Orang-orang lanjut usia dari kelompok ini, orang-orang yang menjadi panutan, memutuskan untuk pergi menemui orang-orang Israel dan menyatakan pada mereka bahwa kamp akan menyerah. Dengan bendera putih di tangan mereka mereka masuk ke mobil dan pergi ke luar. Mereka tidak pernah kembali. Beberapa lelaki muda pergi dengan senjatanya dan pergi ke arah yang sama. Mereka pun tidak pernah kembali lagi, demikian pula orang-orang yang pergi mencari mereka. Kemudian kami sadar bahwa lebih baik kami meninggalkan tempat ini segera… Ratusan orang melarikan diri ke suatu tempat persembunyian yang sama di bagian utara kamp. Begitu banyak di antara kami yang hampir mati lemas. Ketika fajar menyingsing kesunyian kematian di mana-mana; tempat ini adalah sebuah kota hantu sekarang. Pengeboman pun berhenti. Satu kali kadang-kadang kami bisa mendengar satu letusan senjata. Kemudian, dari arah mesjid, jeritan seorang wanita memecah kesunyian. Rambutnya diacak-acak, bajunya yang koyak penuh darah. Ia seperti seorang yang hilang ingatan. Di kakinya ada anak-anak yang tenggorokannya telah digorok… Mereka berperilaku brutal, dan mereka menggunakan pisaunya dan alat-alat potong lain untuk melakukan pembunuhan dalam keheningan. Setelah para milisi menyelesaikan pekerjaannya di kamp tersebut, mereka menyelesaikan pekerjaan kotornya di Rumah Sakit Gaza. Mereka menyeret para dokter, perawat, dan yang terluka ke luar rumah sakit dan membunuh mereka. Jika orang-orang yang hilang dimasukkan, kita tahu bahwa antara 3000 dan 3.500 orang telah terbunuh.

Pemandangan mengerikan ini adalah pekerjaan Ariel Sharon, yang dikenal dengan pernyataannya seperti “Orang-orang Arab mengenal saya, dan saya mengenal mereka” serta melalui penggambarannya tentang orang Arab dengan istilah menyakitkan, seperti “hama." Setelah Perang 1967, Sharon menyebabkan 160.000 orang Palestina meninggalkan Yerusalem Timur dan menjadi pengungsi. Teknik hukumannya meliputi pengeboman rumah, pembongkaran kamp pengungsi, dan penahanan ratusan pemuda tanpa alasan lalu menyiksa mereka. Ketika Sharon menjadi penanggung jawab keamanan di Jalur Gaza, ratusan orang Palestina dibunuh, ribuan ditahan dan diusir dari Palestina, dan di Gaza saja 2000 rumah telah dihancurkan dan 16.000 orang diusir untuk kedua kalinya. Pada saat pembantaian Sabra dan Shatilla, 14.000 orang (termasuk 13.000 orang sipil tak bersenjata) meninggal di tempat itu dalam beberapa minggu, dan sekitar setengah juta orang kehilangan tempat tinggal.
Kekejaman dan kebrutalan yang digambarkan di sini terjadi terus menerus di tanah Palestina selama 50 tahun terakhir. Bahkan, contoh-contoh yang disebutkan di atas hanyalah pembantaian ketika banyak orang-orang Palestina kehilangan jiwanya dalam satu hari saja. Kejadian yang serupa, di antara banyak lainnya, adalah sebagai berikut: 8 orang di al-Sammou, 1966; 7 orang di Adloun, 1978; 80 orang di Abbasieh, 1979; dan 20 orang di Saida, 1980. Di luar ini, beberapa orang terbunuh atau dibantai setiap hari selama bertahun-tahun. Dan setiap hari rumah-rumah masih saja dihancurkan dan orang-orang masih diusir dari tanah air mereka. Jelas, tujuan akhir Israel adalah untuk menakut-nakuti orang-orang Palestina, mengusir mereka dari tanahnya, dan menundukkan orang Palestina kepada keinginan mereka melalui sebuah kebijakan pembersihan etnis yang terencana.
Seluruh dunia menyaksikan ketika masyarakat ini dibantai, sewaktu mereka menghadapi pembasmian bangsa yang terang-terangan. Karena alasan tertentu, sebagian besar pemerintahan telah dan tetap mengabaikan praktek-praktek brutal dan tak berprikemanusiaan ini dan tidak menjatuhkan sanksi apa pun selain dari “mengutuk” pada saat tertentu saja.
Dalam karya klasiknya World Orders: Old and New, pengamat Thmur Tengah Noam Chomsky menggambarkan pandangan pemerintah Israel tentang orang alestina dan bagaimana ahli strategi Amerika menilai pandangan ini:
Tentang orang-orang Palestina, pejabat AS tidak punya alasan untuk mdmpertanyakan pendapat ahli pemerintahan Israel pada tahun 1948, bahwa para pengungsi harus bercampur dengan penduduk di neger) hain atau “akan diremukkan”: “be`erapa di antara mereka akan mati dan sebagi!n bes`r m%reka ak!n k%mBali ke debu dan sampah masyarakat, dan bergabung dengan kelompok termiskin di negara-negara Arab.” Oleh karena itu, tak perlu menyusahkan diri karena mereka. Penilaian seperti ini tetap berlaku hingga hari ini, bahkan menjadi kenyataan sewaktu kejadian-kejadian tersebut terungkap.
Ramalan pejabat berwenang di Amerika dan Israel telah terwujud hari ini. Bahkan, kebijakan kekerasan dan intimidasi atas warga Palestina yang dilakukan selama masa pendirian Israel dan tahun-tahun pertama tetap tak mereda setelahnya.
Orang-orang Islam Palestina menghadapi cobaan dan kejahatan yang serupa seperti yang dialami oleh umat Islam sepanjang sejarah. Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan orang-orang beriman tentang suatu masa (Bani Israil) mengenai kekerasan Fir’aun:
Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. (Qur'an, 2:49)
Jelaslah, Allah membantu orang-orang yang sabar, dan berdasarkan hukum-Nya, keselamatan selalu dinikmati orang-orang beriman yang benar, meskipun jumlah mereka sedikit, lemah, atau tertindas. Namun, kita juga harus mengetahui bahwa cobaan ini bukan hanya untuk orang-orang Islam di Palestina; Bahkan, cobaan ini semestinya dirasakan semua orang yang menyaksikan atau mengetahui kekejaman ini. Ini karena siapa pun dan bagaimana pun keadaannya, orang-orang Islam berkewajiban membantu orang-orang yang dizalimi dan tertindas. Dan pertolongan terbesar yang bisa mereka berikan adalah mengatasi kekejaman ini dari akarnya. Dengan kata lain, bantuan terbesar yang bisa diberikan manusia kepada orang-orang Palestina yang terus berjuang untuk kehidupan mereka di tengah-tengah kekacauan dan kesulitan yang terus terjadi adalah melakukan perjuangan pemikiran melawan paham dasar Zionisme: sikap Darwinistis Sosial, yang menyebabkan perpecahan, kekacauan, dan kekerasan.
40. Pada 13 April 1990; terjadilah pembantaian Masjidil Aqsha yang dilakukan oleh pasukan Yahudi yang membunuh 22 jiwa.
41. Pada Juli 1993; Zionis meluncurkan “Operation Accountability” selama 7 hari menyerang dengan serangan udara, artileri, dan angkatan lautnya menewaskan 130 orang, terutama penduduk sipil Lebanon dan 300.000 penduduk sipil kehilangan tempat tinggal.
42. Pada tahun 1994; terjadi pembantaian di Masjid Ibrahimi, 50 tewas.
43. Pada hari Jum’at 25 Februari 1994; suatu pembantaian mengerikan terjadi di Palestina. Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh seorang Yahudi Zionis atas umat Islam yang tengah sholat Jum’at di Mesjid Ibrahimi, lebih dari 50 orang Islam tewas dan hampir 300 orang luka-luka. Beberapa orang yang terluka kemudian tewas karena luka yang dideritanya.  Pembantaian ini dilakukan oleh seorang Yahudi yang tinggal di pemukiman Yahudi Kiryat Arba di Hebron. Sang teroris juga menjadi anggota cadangan di angkatan bersenjata Israel dan anggota sebuah organisasi teroris Zionis. Sumber-sumber di Israel melaporkan bahwa ia mengenakan seragam militer selama serangan tersebut. Penyerang menyusup ke dalam mesjid dan bersembunyi di belakang sebuah tiang sewaktu orang Islam melaksanakan sholat Subuh. Ketika mereka tengah rukuk bersama, ia memberondong mereka dengan sebuah senapan mesin. Menurut laporan saksi mata, ia tidak melakukannya sendiri, ia hanya menarik picunya saja. Begitu senjatanya kosong, temannya mengganti dengan yang baru. Setelah kejadian ini, tentara Israel mengepung mesjid itu dan mencegah wartawan mendekatinya. Begitu banyak orang yang tewas ketika para tentara ini menembaki orang-orang Islam Palestina yang berdemonstrasi di sekitar mesjid untuk memprotes serangan tersebut.
44. Pada 11 April 1996; tentara Zionis meluncurkan “Operation Grapes of Wrath”.  
Inilah genosida (pemusnahan ras) paling mengerikan. Lebih dari 14.000 bom dan 1.500 kali serangan udara membantai penduduk sipil tak berdosa. Lebih dari 300 orang terutama wanita dan anak-anak tewas (termasuk 102 orang pengungsi di pangkalan PBB), ribuan luka parah, 50 desa hancur dan lebih dari 500.000 penduduk sipil kehilangan tempat tinggal.
45. Pada tahun 1996; terjadi pembantaian Qana, 109 tewas.
Lebih dari 100 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, kehilangan jiwanya di kamp pengungsi Qana ketika mereka dibom oleh angkatan udara Israel. Pemandangan mengerikan karena pembantaian ini, termasuk anak-anak yang dipenggal kepalanya, tidak akan pernah terlupakan. Suatu tim pemeriksa dari PBB memastikan bahwa pembantaian ini disengaja.
46. Dalam rentang 2005-2008, Yahudi telah menghancurkan 667 rumah warga Palestina.
Lebih parah lagi, sedikitnya 4.200 Muslimin Palestina telah ditangkap dan dipenjarakan tanpa pengadilan.Jumlah pengangguran warga Palestina semakin meningkat seiring ditutupnya jalur perhubungan darat oleh militer Israel. Menteri Pertanian Palestina Muhammad Al-Agha mengatakan, “Lebih dari 900.000 pekerja Muslim Palestina menjadi pengangguran.”Selain itu, akibat serangan bertubi-tubi oleh Yahudi, jumlah petani Muslim yang menganggur juga meningkat, mencapai 45.000 petani. Sehingga, sekitar 250.000 ribu keluarga jatuh miskin. Di penjara Israel terdapat 12 ribu tahanan dari warga Palestina, mereka dibagi menjadi 11 penjara di Israel. Ratusan dari mereka dilarang untuk dijenguk oleh keluarganya.
47. Pada 27 Desember 2008, pesawat-pesawat tempur Yahudi membombardir Jalur Gaza, dan menyebabkan lebih dari 200 warga Palestina tewas pada hari pertama penyerangan.
Korban tewas bahkan terus meningkat hingga mencapai puluhan ribu jiwa.
Demikianlah kaleidoskop kriminal sang bangsa terlaknat, Zionis Yahudi yang malah semakin brutal, sadis, dan tanpa malu terus meningkat.
Lantas, siapakah sebenarnya teroris sejati yang hakiki?
Seluruh kaum Muslimin dan bahkan masyarakat dunia pasti menjawab: “Yahudi Israel yang terkutuk!”
sumber : http://www.lastiko.web.id/2010/11/kaleidoskop-kejahatan-bangsa-terlaknat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...