Senin, 05 Maret 2012

Jangan Meragu dan Apatis kalau tidak ingin seperti Kodak




Pepatah yang mengatakan roda kehidupan berputar rupanya benar-benar terbukti.  Siapa Nyana kalau raksasa perusahaan sekaliber Kodak yang sudah berusia ratusan tahun bisa tersungkur. Sebenarnya jika dirunut kebangkrutan Kodak hanyalah bermula dari  sikap MERAGU dan tidak mau BERADAPTASI dengan keadaan. 

Dahulu di waktu aku kecil sampai era 90-an setiap orang mau fhoto pasti yang  diingat hanya Kodak. Bahkan tustel yang dipakai untuk jepret pun dinamai Kodak, tidak peduli mereknya apa, mesti bilang sudah bawa Kodak belum?  Maksudnya sudah bawa tustel belum. 



Sama  kayak tetanggaku ketika menceritakan tentang tamu yang datang ke rumah dengan memakai motor. Ketika saya Tanya, tadi dia naik Honda. Padahal temenku itu pakai merek lain. Hehehe.


Konon, kamera digital, berhasil dibikin oleh Kodak semenjak tahun 1975. Tetapi hasil itu hanyalah menuai simpati tanpa tindakan yang berarti karena dianggap akan menghantam produk mereka sendiri, rol film.  Zaman terus berganti, dan kamera digital pun mulai bermunculan, sebut saja competitor kamera asal negeri Sakura yang menggenjot kamera digital dengan segala aksesorisnya ternyata mampu menggeser kedudukan Kodak. 

Pelanggan lama Kodak mulai meninggalkan film rol (negative film) dan beralih  kamera digital. Karena dinilai lebih efesien dan fleksibel. Menghadapi kenyataan ini, alih alih Kodak mengambil sikap atau paling tidak menyesuaikan diri, malah tetap kekeh pada pendiriannya. Baru kemudian di tahun 2000-an Kodak mulai sadar akan kesalahan strateginya. Ia muai berbenah  tetapi terlambat sudah! ….

Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, raksasa yang kelelahan itu roboh, meski belum mau lempar handuk. Kodak, raksasa dunia fotografi, pada hari itu akhirnya mengajukan permohonan perlindungan bangkrut kepada Pengadilan Pailit AS melalui Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan.
Chapter 11 “pada intinya berfungsi membantu perusahaan yang sedang terancam bangkrut atau pailit, tetapi masih memiliki prospek pada masa datang. Itulah sebabnya mengapa pasal ini disebut dengan bankruptcy protection atau proteksi pailit.” jelas Ricardo Simanjuntak, pakar hukum kepailitan, sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia.
Kodak masih bisa bangkit. Tapi tentu tak sebagai raksasa lagi.


Transformasi Teknologi Fotografi
Para pundit merujuk pada transformasi teknologi fotografi, dari seluloid (film) ke silikon (digital), sebagai biang kerok ambruknya Kodak. Ironisnya, metamorfosa ini tersintesa dari lab Kodak sendiri. Pada tahun 1975, Steven J. Sasson, salah seorang insinyur Kodak, membuat kamera digital. Kamera digital pertama di dunia ini punya resolusi sepuluh ribu piksel; hasil jepretannya disimpan pada pita kaset.

Manajemen Kodak akui kamera Sasson ini “cute”.
That’s cute but don’t tell anyone about it,” kata Sasson mengenai reaksi manajemen Kodak, sebagaimana dikisahkan the New York Times. Pembesar Kodak jatuh hati, tapi mereka tidak sampai jatuh cinta pada penemuan ini.

Baru pada awal tahun 2004-lah Kodak mengumumkan untuk stop produksi kamera film dan beralih ke kamera digital, nyaris 30 tahun setelah Kodak membuat kamera digital pertama kali. Sayang, di pasar telah menunggu para samurai Jepang: Canon, Nikon dan Sony. Produk para pendekar Jepang ini dianggap lebih unggul dibanding Kodak. Lalu ada smartphone dengan fungsi kamera digital. Kamera ponsel pintar ini berkualitas, dan disukai pasar, sampai tidak bisa dibedakan ini ponsel atau kamera.  Kamera digital bikinan Kodak pun kalah bersaing.

Saham Kodak sebelum menyatakan diri bangkrut adalah 37 sen (0,37 dollar AS), padahal saham Kodak pernah dihargai 97 dollar AS per saham pada tahun 1997.

Tahun 1976, 90 % film kamera dan 85 % kamera yang dijual di AS adalah Kodak. Tahun 1996 penjualan Kodak pernah menembus angka 16 miliar dolar AS. Tahun 1999 laba bersih Kodak  2,5 miliar dollar AS. Karyawan Kodak pun harus dipangkas drastis dari hampir 150.000 menjadi kurang dari 15.000. Sangat tragis mengingat Kodak sebelumnya adalah raja pasar kamera. Kodak adalah Google dan Apple pada eranya.

Kodak bukan tidak menyadari ancaman kamera digital ini. Pada tahun 1981, setelah Sony merilis kamera digital, Kodak melakukan riset pasar yang sangat detail mengenai ancaman fotografi digital.

Kesimpulan riset adalah pertama: fotografi digital berpotensi menggerus bisnis inti Kodak yang didominasi kamera film. Kesimpulan kedua, butuh waktu untuk transformasi tersebut; tapi Kodak punya sekitar satu dekade untuk bersiap-siap. Ini harusnya jeda waktu (windows of opportunity) yang cukup bagi Kodak untuk mempersenjatai diri.


Kesalahan Strategis
Tetapi bukannya mentransformasi diri, Kodak malah melakukan kesalahan strategis. Daripada meningkatkan kualitas dan mematangkan teknologi kamera digital, supaya mantap beralih ke teknologi baru, Kodak justru hanya mau mengembangkan teknologi digital demi memperbaiki kualitas kamera film. 

Maksud Kodak begini: user akan menggunakan kamera untuk ambil potret, pilih foto mana mau dicetak, kemudian foto pilihan ini akan disimpan di dalam film pada kamera tersebut. Pada kamera konvensional, Anda tidak bisa melihat hasil jepretan sebelum foto tercetak. Pada kamera ini, user bisa pilih gambar mana yang mau dicetak, gambar mana yang mau dibuang. Kamera yang dipasarkan Kodak ini, Kodak Advantix Preview, bisa melakukan fungsi ini karena ia blasteran digital dan film. 

Kodak menghabiskan dana sekitar 500 juta dollar AS untuk mengembangkan produk Aventix.
Tapi mana ada orang mau beli kamera digital tapi masih harus bayar film seluloid untuk cetak foto?

Strategi setengah hati ini terus dikembangkan oleh Kodak meskipun pada tahun 1986, Kodak berhasil mengembangkan kamera digital dengan resolusi satu juta piksel pertama, yang menurut hasil riset Kodak sendiri merupakan ­breakthrough yang harus tercapai agar kamera digital bisa lepas landas.

Kenapa Kodak menerapkan strategi ini? Kodak enggan meninggalkan bisnis inti yang masih menguntungkan. “Pebisnis yang bijaksana akan menyimpulkan bahwa sebaiknya tidak terburu-buru untuk pindah dari bisnis yang menghasilkan 70 sen untuk 1 film ke digital yang, mungkin paling tinggi, hanya 5 sen,” kata Larry Matteson, mantan eksekutif Kodak. 

Kodak tahu tidak ada pilihan selain harus beradaptasi. Sayang, adaptasi yang dilakukan Kodak lambat.
Kodak ambruk bukan karena dibantai fotografi digital; Kodak ambruk karena ingin membantai fotografi digital.
Namun tidak ada alasan Kodak menuding digital fotografi sebagai kambing hitam karena Fujifilm, rival Kodak, juga kena tanduk tapi ia selamat.

Fujifilm, perusahaan yang punya bisnis inti seperti halnya Kodak juga ikut digilas. Bedanya, Fujifilm mau beradaptasi, melakukan transformasi bisnis, meninggalkan bisnis intinya ketika tahu itu tak lagi menguntungkan.

Fujifilm masih berjaya saat ini dengan kapitalisasi bisnis sebesar 12.6 miliar dollar AS, sedangkan Kodak hanya 220 juta dollar AS.

Clay Christensen penulis buku bisnis berpengaruh The Innovator’s Dilemma, menyalahkan Kodak atas kesalahan strategis ini. Kodak sudah melihat “tsunami” akan tiba, katanya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Kodak gagal melakukan transformasi karena terkunci pada model bisnis yang mengagungkan kamera film. Ketika Anda sudah menjadi pemimpin pasar, dan bisnis yang Anda kuasai hampir menjadi monopoli, dan sangat menguntungkan sebagai bisnis inti, Anda akan makin betah dengan model bisnis yang ada.

Ini sangat ironis, mengingat pendiri Kodak, George Eastman, juga menghadapi pilihan transformasi bisnis, bahkan dua kali, tapi ia bertindak berbeda. Pertama, ketika Eastman beralih ke kamera film dari kamera dry-plate yang sebenarnya masih sangat menguntungkan dia. Kedua, ketika Eastman pindah ke film berwarna meskipun pada waktu itu kualitasnya masih inferior dibanding film hitam putih, yang didominasi Kodak.

Kodak adalah bukti bahwa suatu perusahaan akan ambruk jika tidak punya mindset yang terbuka pada perubahan, sebesar apapun perusahaan tersebut. Perusahaan harus melakukan transformasi, jika bisnis utama tidak bisa lagi dipertahankan. Kodak bukannya tidak tahu perubahan itu akan datang; ia tidak membuka diri, kemudian lambat beradaptasi dengan perubahan.

Poin lain, sebuah perusahaan harus terus berinovasi bahkan jika output inovasi tersebut justru akan membabat bisnis inti. Sebenarnya inilah yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan: terus menantang dirinya sendiri dengan inovasi-inovasi baru. Jika tidak, kompetitor akan melakukan hal tersebut, dan perusahaan ketinggalan start. Ini sudah terjadi pada pasar ponsel pintar ketika Blackberry menggeser Nokia dan kemudian iPhone mengganyang Blackberry.

Dalam bisnis, timing berperan penting. Jika Anda pertama di pasar, untuk satu segmen produk tertentu, Anda akan mencuri start, dan pasar akan di bawah kendali Anda. Kodak seharusnya bisa memanfaatkan ini karena ia mewujudkan mimpi fotografi digital, tapi perusahaan ini gagal memanfaatkan momen dan momentum, dan raksasa itu pun ambruk.



Sumber : http://julitra.wordpress.com/
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...