Rabu, 14 Maret 2012

Terima kasih...pak


Jalanan kota Yogya tidak seperti 10 tahun yang lalu. Kini di manapun berkendara nyaris semuanya dipenuhi oleh sepeda motor dan mobil. Keduanya terus bertambah sementara lebar jalan dari dulu sampai sekarang ya segitu-itu. Jika ini tidak diantisipasi oleh pihak-pihak yang berkompeten, maka 5 tahun lagi Jogja bisa-bisa seperti Jakarta. Macet cet. terutama pada jam-jam sibuk  saat  pergi pulang kantor, sekolah, dan tempat kerja bisa dipastikan laju kendaraan benar-benar padat merayap. 

Kalau kita sedang berhenti di lampu bangjo, (istilah orang jogja untuk menyederhanakan traffic light yang terdiri dari lampu abang (merah) ijo (hijau). sebenarnya masih kurang satu kuning. seharusnya bangjoning. tapi karena ribet dan  terlalu panjang  maka jadilah disingkat BANGJO) sempatkanlah tengok kiri dan kanan. pemandangan bahu jalan penuh oleh kendaraan hingga marka yang memisahkan antara kendaraan yang berhenti dengan para pemakai jalur ke kiri (biasanya terus) tidak ada lagi sisa ruang bahkan untuk orang berdiri sekalipun.

kendaraan yang mau menikung ke kiri yang  seharusnya bisa langsung belok, tidak bisa berbuat banyak. terjebak dalam kemacetan. habis bagaimana kalau semua sepeda motor  pengen di depan semuanya. mula-mula sih cuman satu, lalu disusul motor di belakangnya. begitu datang yang lain juga tidak mau kalah, bukannya  menempatkan diri dengan manis di barisan belakang sono, eee malah maju, mengambil posisi di sebelahnya. Maka demikian seterusnya  hingga seluruh bahu badan penuh, full press body, hehehe.

 Bisa dibayangkan kan padatnya?
Dalam banyak kesempatan, ketika saya  menjumpai pertigaan, biasanya ada mobil atau motor yang ingin masuk ke jalur utama. Pernahkah kita membayangkan kalau kita di posisi mereka? iya..kita hanya pengin dikasih kesempatan sedikit saja agar kita bisa masuk atau menyeberang. tapi...kenyataannya kadang mereka bisa menunggu sampai lehernya pegel, bahkan tenggeng. karena posisi menengok ke kiri atau kanan terus. Bagaimana tidak, kalau sekian lama menunggu namun tidak juga dikasih kesempatan barang 3 detik untuk masuk ke jalur utama atau menyeberang.

Melihat yang demikian itu saya biasanya memberi kesempatan mereka beberapa detik. Silahkan anda masuk and menyeberang. kebiasaan itu mulanya dianggap aneh oleh istri. maka saya katakan,

"kalau kita memberikan kesempatan pada orang lain. insya Allah kalau kita pada posisi seperti mereka kita juga akan diberi kesempatan yang sama.

Lihat bagaimana mereka saking senengnya mengacungkan jempol kepada kita. dan berteriak,.."Terima kasih pak",.seolah-olah mereka ingin bilang kepada kita anda patut mendapatkan jempol di saat orang lain tidak ada yang peduli atas 'penderitaan' mereka menunggu."

Siapa menabur dialah yang akan menuai. demikian pepatah mengatakan. Bukan sebuah kebetulan kalau di perjalanan ketika saya sedang di simpang tiga baik akan menyeberang atau masuk ke jalur utama, selalu dikasih kesempatan. Bahkan pernah Bus sekalipun ia berhenti hanya sekedar memberikan kesempatan kepada mobil saya untukmasuk.

"Luar biasa!," pekik istri saya.
"aku baru percaya sekarang pa, ternyata kebaikan yang kita semai, kita pulalah  yang akan menuai. Tidak akan pernah ketukar antara kebaikan dan keburukan"

Yap...berbagilah meski hanya sebentar. beri kesempatan orang lain untuk menyeberang atau masuk ke jalur utama. niscaya perjalanan akan menyenangkan. kita banyak didoakan orang lain. dan hati pun gembira karena bisa menyenangkan orang lain.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...