Rabu, 09 Juni 2010

Setelah Kau Menikahiku (bag 2)




“Bagaimana aku tadi?” bisiknya.
“Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?”
“Hanya waktu aku berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci
dengan celanaku. Ah, Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah
membosankan. Simulasi. Menikah simulasi dengannya tidak akan
membosankan, koreksiku.

Sebulan pertama Upit berusaha mengerti kebiasaan Idan menghabiskan akhir
pekan dengan memancing. Di minggu kelima dia protes, dan mereka
bertengkar. Pertengkaran terhebat yang pertama.



Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan —-simulasi-— kulewatkan di
rumahku sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena
kondisi ibunya, yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin
karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan
Idan. Pada hari ketujuh kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan
setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan,
malam itu kami lewati dengan tidur.
Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Aku
menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, seme ntara di atas meja
terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.
“Aku ada rapat pukul setengah delapan,” seru Idan sambil membalik dadar
telurnya. “Aku mesti berangkat sebelum setengah enam.”
Ku cicipi nasi goreng buatannya. “Aku tidak tahu kau pintar memasak.”
“Pramuka,” komentar Idan ter senyum. Diletakkannya telur di atas meja
dan ia duduk untuk sarapan. “Aku juga pandai tali-temali, semafor,
menjahit.”
“Percaya, percaya. Kalau kau mau menangani urusan masak, aku akan
memperbaiki keran dan genting bocor, plus membabat rumput.”
Idan terbahak. “Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak mungkin masak
setiap pagi.”
“Apalagi aku . Kita perlu cari pembantu.”
“Jangan,” Idan menggeleng. “Ia pasti curiga kalau melihat kita tidur di
kamar berbeda.”
“Jadi?”
Idan menggaruk kepalanya. “Bisakah kau masak nasi tiap hari?”
pintanya.“Aku punya rice cooker.”
Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah
permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya?
Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya
jadi seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.
“Kalau kau mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik.”
Ia tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin
merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang tergantung di
dinding dapur.
“Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah
keluarga,” katanya saat kembali ke kursinya.

“Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati,”
lanjutnya. “Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau kau akan pulang
terlambat.”
Dahiku berkerut. “Untuk apa?”
“Apa kau tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang
terlambat?”
Aku menggeleng. “Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku
sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh.”
“Tapi aku suamimu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana
kau kalau pulang terlambat.”
“Kau kedengaran seperti diktator.”
“Kurasa aku tidak minta terlalu banyak.”
“Itu terlalu banyak untukku.”
Idan meletakkan sendoknya dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa
kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah
membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.
“Ingat,” lanjutku hati-hati. “Aku bukan benar-benar istrimu. Kau tidak
punya hak untuk mengaturku seperti itu.”
Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih.
Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap. “Baik. Kalau itu maumu”
desisnya kemudian.
Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama
sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan
Idan memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan
akan semakin berang karenanya.
Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya
untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemui ku di ruang
makan. “Aku pergi, Pit,” katanya dingin.
Aku bangkit dari meja menghampirinya , berniat untuk memperbaiki
situasi. “Sebagian teman-temanku menyarankan ini,” ujarku sambil mer aih
tangan kanan Idan dan menempelkannya di bibirku. “Kupikir ada baiknya
kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku.”
Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan
berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Dasar tidak tahu terima kasih!
ku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang
kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk
memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaanpertanyaan
yang pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku
menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku
tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku
sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang
istri, mesti kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai
suamiku. Bagiku, ia hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat
tidak boleh menuntut terlalu banyak.
Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di jari
manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam
permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya
wajar. Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya
satu pelajaran pertama dari permainan ini.
Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan.
Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari
semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan.
Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marahmarah
dulu.
langkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah pukul
setengah dua belas malam dan Idan belum pulang?
Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan
menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kondisi ibu
mertuaku , kutelepon rumahnya. Aku bahkan mencoba mengontak kantornya,
tanpa hasil. Idan tidak ada di mana-mana.
Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan sekali!
Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas. Apalagi
hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku
minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat.
Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu kulewatkan
di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit.
Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas di benakku
saat aku mengangkat receiver.
“Upit?”
“Idan?” jeritku. “Kau di mana?”
“Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh aku
pulang?”
“Idan, ini rumahmu!” meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai
meleleh di pipiku. “Kau di mana?”
“Di luar.”
“Di luar rumah?”
“Ya. Dan aku lapar.”
“Oh, Tuhan….”
Aku lari ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi
mobilnya. Entah sudah berapa lama ia di sana.

“Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!”
teriakku kepadanya.
“Aku juga rindu kepadamu!” balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya
semakin perih melihat tawanya lagi.
“Di mana saja kau dua hari ini?”
“Di hotel kecil dekat kantor.”
Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya. Ia tidak
berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan
kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap.
“Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?” suaraku bergetar.
“Aku perlu baju bersih,” ia tertawa malu. “Laundri hotel mahal sekali.”
Saat ia mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia
menyambung, ”Selain itu , aku khawatir karena kau sendirian di sini.”
Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.
“Aku akan pulang terlambat besok,” ucapku perlahan. “Aku harus lembur.
Dikejar deadline.”
Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi
mataku terpaku pada es krim di hadapanku.
“Oke,” katanya. “Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?”
“Asal kau sisakan cukup untukku,” aku tersenyum.
Paginya kulihat lingkaran merah kedua di kalender.
Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah dibacanya
berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film
action —-genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola—- olahraga
yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannya
mengeluarkan pas ta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak
dari bawah seperti yang biasa kulakukan.
Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir
pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam untuk
bermain sepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul
setengah empat, ia pergi memancing. Untukku yang selalu menghabiskan
waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu
pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara
makan-ma kan, kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku
tak sanggup menontonnya main bola atau menemaninya memancing, karena aku
dengan sangat cepat akan mera sa jemu.
Sebulan pertama aku berusaha mengerti . Ia selalu pulang dengan mata
berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi di pekan kelima
kesabaran kutandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air
minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak
memancing.
“Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini,” pintaku.
“Kau kan bisa pergi sendiri,” katanya sambil memasukkan kaus bersih dan
handuk kecil.
“Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke mana pun.”
“Aku tidak bisa mangkir memancing hari ini, Pit,” ia masih tetap tak
memandang ke arahku, sibuk dengan sepatu bolanya. “Aku sudah janji
dengan kawan-kawanku untuk mencoba tempat memancing baru.”
“Kau bisa mencobanya minggu depan.”
“Tadi malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini,
” ia tersenyum sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. “Aku
bias memecahkan rekor sepuluh kilo sore nanti!”
“Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi,” gumamku.
“Pakai voucher dariku saja,” sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di
tempat. “Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi
lima belas ribu cukup?”
“Idan! Itu hanya cukup untuk beli minum selama di salon.”
“Aku bisa cukur rambut plus dipijit plus minum kopi dengan lima belas
ribu.”
“Oh, Tuhan!”
Idan berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di
pinggang. “Pit, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi.”
“Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh
cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan
jalan-jalan.”
“Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau
bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan.” “Ini bukan
masalah kau melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian?
Aku perlu teman.”
“Kalau begitu ajaklah teman-temanmu.”
“Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka.”
Idan mengerutkan keningnya. “Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?”
“Ya!”
“Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan
sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana.”
“Idan!” jeritku. “Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu aku
benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!”
Mata Idan menyipit. “Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal,”
desisnya.
“Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali.”
“Mengalah!” suaranya meninggi. “Apa aku masih kurang mengalah selama
ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh empat jam waktuku , apa
kau tidak bisa memberiku….”
“Enam kali dua puluh empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar
bertemu dan bicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan
malam!”
“Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan
waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih mengurung diri di kamar
dengan Pavarotti dan Flamingo.…”
“Placido Dom ingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk dipakai
menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh
dua orang memperebutkan satu bola kulit!”
“Setidak-tidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu
yang becek air mata itu!”
“Kau kekanak-kanakan!”
“Dan kau, Tuan Putri, kau egois!”
Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu
samping. Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakangku.
Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan
suaminya?Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng,
tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak
mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan
semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah
menuntut apa pun darinya. Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali
sejak aku menikah —-simulasi—- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku,
pulang dari kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan
menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya
untukku ? Tidak!
Kubuka lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku.
Pagi itu kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air
mataku kubiarkan meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis
tanpa terasa.
Idan kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi
dan tak lama kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt
dan celana jins.
“Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan sedikit,”
katanya.
“Aku tidak mau pergi ke mal.”
“Kau bilang tadi pagi….”
“Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal karena
alergimu kumat.”
“Upit, kalau kita tidak pergi se karang, kita bisa pulang terlalu sore.
Aku ada janji jam empat….”
“Aku bilang aku tidak mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang
kalau kau mau.”
“Jangan seperti anak kecil begini, Pit,” geramnya. “Ayo!”
“Tidak! Dan kalau kau marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!”
Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISTIKQOMAH MEMANG SULIT

Dulu di awal mula aku bikin blog ini, semangatnya bukan main. Blog ini benar benar aku mulai dari nol. Berawal dari sering buka alamat blo...